Tag Archives: kehamilan

Sudah Cuti, Ngeblog Lagi…

Sudah Cuti, Ngeblog Lagi…

Sudah beberapa hari ini aku mulai menjalani cuti melahirkan. Alhamdulillah, akhirnya bisa terlepas dari jebak kemacetan lalu lintas dan desak-desak di dalam commuter line. Memang, yang paling melelahkan dari pekerjaanku adalah rutinitas perjalanan PP rumah-kantor. Biar kata di kantor ada pekerjaan seabrek yang mesti diselesaikan, itu belum ada apa-apanya dibandingkan rasa lelah menempuh perjalanan jauh ini. Ermmm, itu agak lebay. Kadang pekerjaan di kantor benar-benar menguras tenagahhh. :|

Ya bayangkan saja, rumah di Curug, kantor di Lapangan Banteng. Uh, jauuuhhh. Alhamdulillah, Allah memberiku kekuatan selama hamil ini untuk menempuh perjalanan sejauh itu. Kadang-kadang klenger juga sih. Ujung-ujungnya, kalau tidak mual muntah di kendaraan (hiii), mual muntah seturun dari kendaraan (hooo), ya mual muntah di rumah atau di kantor. Urgh, Reni joyoook. Tapi di atas semua itu, aku sangat bersyukur junior baik-baik saja. Junior hebaaat…

Banyak cerita-cerita kehamilan yang tidak kuabadikan di blog ini. Di awal kehamilan, sempat ada keinginan untuk menuliskan perkembangan junior. Selain buat kenang-kenangan, aku juga ingin menjadikan catatan kehamilan tersebut sebagai semacam pengingat atau pembanding di kehamilan berikutnya. Siapa tahu nanti junior punya adik. :D

Tapi, ya sudahlah. Cerita-cerita lalu sudah sebagian lupa. Nanti jadinya yang diceritakan tidak akurat lagi. Lagipula, setelah mulai masuk kerja, aku benar-benar sibuk malas menyentuh blog.

Maafkan Bunda ya, junior… Tidak apa-apa kan, nak? Sekarang, cerita yang bisa diceritakan saja. Lumayan mengisi waktu luang di masa cuti kehamilan ini. :)

Kendaraan jemputan

Pada awal September, Itjen mengeluarkan trayek jemputan baru, yaitu ke arah Islamik. Aku pun merangsek masuk ke dalam jemputan. Maksudnya? -_-

Aku meminta ijin untuk ikut jemputan Itjen ini khusus perjalanan pulang. Habis, kalau ikut yang pagi, jam setengah enam teng harus sudah berangkat dari rumah. Lebih lima menit atau sepuluh menit kemudian bisa-bisa sudah ditinggal. Jadi, untuk perjalanan pagi aku bayar per ikut, sedang untuk pulang sudah sekalian bayar per satu bulan.

Memasuki awal November, aku berhenti ikut jemputan ini. Kenapa oh kenapa? Pertama, karena aku sering flexi, bahkan telat. Perjalanan di tol Janger bertambah macet sejak ada kebijakan sterilisasi busway. Ermmm, ini kesimpulan agak asal saja sih. Kedua, aku sudah mau cuti. Mau bayar per hari kok malas. Ketiga, perjalanan pulang sudah semakin lama. Kemungkinan ya karena kebijakan sterilisasi busway itu. Pinggang dan pinggul pegal-pegal di dalam kendaraan. Jadi, daku untuk pulang lebih sering naik commuter line. Pilih kereta yang sudah sepi, ya jam tujuh malam ke atas lah. Lumayan, kalaupun mesti berdiri tak perlu berdesak-desakkan. Kalau dapat duduk ya syukur.

Pekerjaan

Jadi, di pertengahan September terjadi pergantian kekuasaan di MOP, tempat daku bekerja. Kepala Bagian diganti. Nah, si Kepala Bagian ini membawa sekretaris Bagian yang sudah bertahun-tahun mengabdi ke tempat barunya. Sebagai ganti sementara, ditunjuklah daku yang punya muka-muka lembar disposisi dan buku ekspedisi ini. Hadewww.

Sementara itu, pekerjaan lama daku yang antara lain mengurusi pidato, kunjungan mahasiswa, dsb juga masih berjalan. Apalagi bulan September-Oktober-November itu banyak acara pelantikan lah, Hari Oeang lah, dll. If you know what I mean...

Dan… jadi TU Bagian MOP itu ternyata benar-benar melelahkan. Salut untuk Bu Dorti! Surat-surat banyak. Kadang ada konseptor yang mau mengurusi sendiri surat keluar. Tapi lebih banyak yang dulu biasa dimanja TU Bagian MOP yang lama, sehingga semua surat diantarkan oleh daku. Belum tugas-tugas turunan dari TU Biro yang adaaa saja macamnya. Belum tugas-tugas lain yang tak bertuan yang jatuhnya ya ke TU Bagian. Tapi, daku selalu berkata kepada junior. Tugas ini dikasih ke Bunda biar Bunda rajin jalan-jalan. Kan ibu hamil disuruh rajin jalan-jalan. Semangat ya, nak… Sabar ya, Ren…

Yang lucu adalah, kalau daku sedang mengurusi surat-surat yang daku konsep sendiri, atasan daku sering meminta tolong si x atau si y untuk mengantarkan surat keluar ke yang tertuju. Tapi giliran surat-surat orang, malah daku sendiri yang biasanya mengantarkan. Hehehe.

Seiring menuanya kehamilan daku, pekerjaan di kantor boleh dikata semakin bertambah banyak. Sekali lagi, alhamdulillah… puji syukur kepada Allah karena junior sehat-sehat selalu. Setiap kali periksa, kata dokter normal-normal semua. Anak pintar kamu, nak… Rajin jalan-jalan kesana kemari pun ternyata kakiku tidak bengkak ataupun kram. Horeee!

Rencana persalinan

Awalnya aku berencana melahirkan di kampung. Ada klinik bersalin yang dokternya perempuan dan dikenal bagus di daerah Gombong. Biaya lebih murah dibanding di sini, dekat keluarga, klinik bagus dengan dokter perempuan yang juga oke, ahhh mantap deh kalau bisa melahirkan di Kebumen.

Tapi oh tapi, kita hanya bisa berencana, Allah yang pada akhirnya menentukan. Ibu sakit lagi. Awal November, kakakku di Kebumen sudah memintaku memikirkan opsi persalinan di Tangerang atau Jakarta. Kalau memaksakan diri melahirkan di Kebumen, ah sepertinya akan menyulitkan banyak orang. Ibu dan bayiku akan terganggu satu sama lain, dan aku sendiri mungkin jadi tidak fokus mengurusi bayiku.

Beberapa hari menjelang aku cuti, Ibu opname lagi di rumah sakit. Hiks hiks. Sedihnya double. Sedih Ibu sakit dan sedih karena tidak bisa melahirkan di Kebumen. Juga bingung karena rewang yang belum dapat-dapat.

Tapi kan ibu hamil tidak boleh stress dan harus selalu berpikiran positif. Maka mari kita pikirkan yang baik-baiknya saja. Ibu sakit kuning, dan setelah diperiksa jadi ketahuan ada batu di saluran empedu. Lalu, aku mengubah rencana menjadi melahirkan di sini, dan jadi bisa setiap hari berdekatan dengan suami. Yang positif-positif saja…

Yah, tapi pernah juga sih minta ijin ke junior untuk diperbolehkan menangis. Habis aku bingung… ngung… ngung…

Hari Selasa kemarin, aku ditemani Mas Ipin periksa ke bidan dekat rumah. Langsung si ibu bidan ngomel-ngomel karena tensiku cuma 85. Hb tidak jadi dicek karena aku belum sarapan. Seminggu sebelumnya periksa di Sari Asih tensi masih 110. Apa alatnya si ibu bidan yang rusak ya, hehe. Kemudian aku dan Mas Ipin mengubah strategi menjelang persalinan, dari masalah menu makanan, suplemen yang diminum, pola tidur, dll. Demi junior…

Demi aku juga sih. Kan aku dan junior akan berjuang bersama. Eh, Mas Ipin juga ikut berjuang ding. Ya demi kami bertiga, deh!

Apaan sih, Ren…

Sekarang, aku berusaha untuk berpikiran positif saja. Ini adalah yang terbaik buat kami. Aku dan junior bisa berdekatan selalu dengan Mas Ipin. Apapun yang terjadi menjelang persalinanku ini adalah kehendak Allah.

Ibu sakit, semoga segera disembuhkan. Aku sedang kurang fit, semoga segera dipulihkan. Rewang pengasuh bayi belum dapat, semoga segera ditemukan. Perlengkapan bayi belum lengkap semua, semoga nanti dapat kado yang banyak. Ehhh…

Semoga Allah memberikan kelancaran dan kemudahan pada kami menjelang, saat, dan sesudah persalinan nanti. Aamiin… *mengamini dengan kencang

Salam semangat! Read the rest of this entry

Junior Masuk Trimester Tiga

Junior Masuk Trimester Tiga

Halooo.
Junior sudah enam bulan lebih lho.
Junior sudah masuk trimester tiga. Horeeee…

Junior sudah semakin besar. Tendangannya semakin kuat. Kondisi junior alhamdulillah baik-baik saja, Insya Allah perkembangannya normal sesuai dengan umurnya. Hasil USG terakhir juga menunjukkan kalau umur junior sejalan dengan HPHT. Jadi sudah tidak ada lagi selisih tiga minggu antara hasil USG dengan HPHT seperti sebelumnya.

Widget junior di samping sudah kuganti. Sebelumnya masih 24 minggu, saat postingan ini dibuat sudah berubah menjadi 27 minggu. :D

Kata dokter junior ini cowo. Cewe atau cowo bagi kami sama-sama menggembirakannya. Akan tetapi, Mas Ipin sudah sering berkata “Ayuh gelut, ayuh gelut…” kepada junior. Biasanya junior membalasnya dengan menendang atau meninju. Kalau yang diajak gelut-gelutan anak cowo memang jadi lebih pantas sih, hehehe.

Aku sendiri dari awal memang sudah berfirasat kalau junior ini cowo. Nama panggilan “junior” saja sudah kecowo-cowoan. Kalau benar cowo, alhamdulillah… Kalau ternyata cewe, alhamdulillah juga… :D

Aku dan Mas Ipin semakin suka mengajak junior ngobrol. Kadang junior merespon dengan tendangan. Kalau cuek ya tetap diajak ngobrol, hehehe. Junior juga kadang membangunkan aku di dini hari. Masih jam dua pagi dia sudah bergerak-gerak dengan semangat. Apapun itu… semoga sehat-sehat selalu kamu ya, nak.

Postingan ini membahas junior saja. Tentang daku dan persiapan kelahiran, lain kali saja lah kalau sempat atau tidak malas. Hehehe.

Sehat dan semangat selalu ya junior. We love youuu…

Junior

Junior

Sesekali lah bikin postingan khusus tentang junior. Selama ini kan biasanya tercampur-campur dengan cerita lain. Hemmm, mulai cerita dari mana ya? *brb lihat postingan orang lain seputar perkembangan janin*

Junior sekarang kalau kata dokter usianya 13 minggu. Kalau dari hitungan sendiri sih sudah 16 minggu. Pernah kutanya ke dokter mengenai selisih yang cukup jauh ini. Jawabnya, “Mungkin Ibu lupa tanggal HPHT-nya. Lagipula selisih itu biasa kok, Bu.” Baiklah… Berapapun usiamu, yang penting kamu sehat-sehat ya, Nak. :)

Pertama kali periksa di klinik Permata Bintaro dengan dokter Riyana. Saat itu masih baru kelihatan kantung janin, usianya diperkirakan baru 4-5 minggu. Periksa kedua kali di klinik daerah dekat rumah (lupa namanya), dengan dokter xxx (lupa juga namanya). Usia diperkirakan sudah 10-11 minggu. Periksa selanjutnya masih belum diputuskan mau dimana. Dari dulu kalau periksa ke dokter kandungan, aku sukanya di klinik. Kalau di rumah sakit, kudengar biasanya antriannya panjang. Nanti dipikirkan lagi ya Nak kamu mau diperiksa kemana. Di klinik boleh, di rumah sakit juga boleh.

Aku sangat merasa bersalah kepada junior karena di awal-awal kehamilan dia sering kubawa bepergian jauh. Sering juga kubawa begadang. Hiks. Alhamdulillah sekarang junior tetap sehat dan baik-baik saja.

Di bulan April aku mudik ke Kebumen dua kali. Saat itu masih belum tahu kalau sedang hamil. Di bulan Mei aku bepergian jauh lagi, kali ini ke Jogja karena Ibu saat itu sudah pindah dirawat di Sardjito. Perjalanan ke Jogja adalah perjalanan yang beraaat. Sendirian naik bus, terjebak 21 jam di jalan karena macet, sempat dioper ke bus lain, dan mabok sepanjang perjalanan, paling parah saat dari Brebes sampai Jogja. Tiap diisi makanan, beberapa saat kemudian makanan itu akan keluar lagi. Tersiksaaa. Sepanjang perjalanan aku terus berdoa semoga junior baik-baik saja dan memintanya supaya kuat. Kalau ingat perjalanan itu, hrrr, begidik sendiri.

Lalu bulan Juni kemarin, Ibu memintaku pulang lagi. Ada acara syukuran di rumah. Sebenarnya dokter dan suami kurang setuju aku pulang, tapi aku tidak kuasa menolak permintaan Ibu. Alhamdulillah suami mengijinkan. Jadilah pulang, kali ini bisa dapat tiket kereta PP. Tetap saja ya mabok meski naik kereta, hehe. Tapi naik kereta jauuuh lebih cepat dan nyaman dibanding naik bus tempo hari.

Soal ngidam makanan, tidak ada makanan yang junior idam-idamkan sampai sebegitunya. Kedondong, rujak bebek, nasi goreng buatan suami (yang mana cuma dimakan beberapa suap karena rasanya biasa saja #upsss), dan pempek adalah beberapa makanan yang sempat menjadi idaman junior.

Urusan makanan sehari-hari, paling suka makan pakai sayur bayam dan tempe goreng. Atau pakai rebusan daun, sambal krosak, dan tempe goreng. Junior sepertinya tergila-gila dengan tempe goreng. Suka juga dengan udang dan cumi. Eh iya, junior juga suka dengan roti panggang isi pisang dan cokelat. Suamiku juga kebetulan suka roti panggang sebagai menu sarapan pagi. Jadi klop deh si junior dengan ayahnya, hehe. Tadinya junior sukanya piscok, tapi karena berminyak banget, maka aku ganti dengan roti panggang isi pisang cokelat tadi. Sekalian biar sandwich toaster yang di rumah bisa terpakai, jadi kan suamiku nanti tergerak untuk membelikan peralatan masak memasak lainnya. #modus

Sudah tiga bulan hamil, berat badanku masih tetap seperti bulan pertama hamil. Perutku juga masih tampak rata, masih kalah jauh dengan perut suami. Kalau suami menyapa junior, biasanya junior akan balas menyapa yang ada di dalam perut suami (doh). Sempat khawatir dengan perut yang masih kecil ini, tapi kata beberapa orang itu wajar-wajar saja. Ya sud. :)

Kira-kira demikian cerita tentang junior. Tetap saja ya, tercampur dengan cerita-cerita lainnya. Semangat selalu, junior. Sehat-sehat di dalam ya. We love you so much, baby

Dan Hasilnya Adalah..

Dan Hasilnya Adalah..

Sudah bertemu dengan dr. Dewi Rumiris, SPOG. Beliau ramah dan enak ditanya-tanya. Bikin nyaman. Juga cantik, meski sudah tak muda lagi. :p

Dari rumah sudah mempersiapkan daftar pertanyaan yang akan diajukan di ruang periksa. Aku ketik di ponsel dan kukirimkan ke nomor Mas Ipin. Tapi ternyata tak ada satu pun pertanyaan dari daftar itu yang kemudian ditanyakan di sana. Lah?

Karena daftar pertanyaan yang disiapkan adalah jika hasil USG menunjukkan tanda kehamilan. Sedangkan hasilnya justru menunjukkan sebaliknya. Sedih? Ya pasti. Tapi aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar kabar apapun kok.

Selama ini mungkin aku yang terlalu berlebihan menghubung-hubungkan apa yang terjadi sebagai tanda kehamilan. Delapan testpack sudah menjawab tidak. Eh, aku keyel dengan pikiranku sendiri. Sebelum masuk ke ruang pemeriksaan, aku bersua dengan salah satu teman sesama alumni STAN. Dia baru telat seminggu cuma pakai testpack sekali dan langsung dua garis. Kepedeanku bahwa sedang hamil saat itu pun surut dengan cepat.

Setelah mendapat hasil USG, pertanyaan-pertanyaan yang kemudian diajukan adalah seputar hal lainnya. Jawabannya disimpan untuk diri sendiri dan Mas Ipin saja. Insya Allah kami akan berjumpa dengan dr. Dewi lagi. Semoga menjadi yang terbaik bagi kami.

Dari kejadian ini ada juga hal lain yang jadi kami pelajari, yaitu tidak tergesa-gesa bercerita mengenai sesuatu yang belum pasti. :D

 

Ohya, lalu mengapa kok aku sampai bisa terlambat haid cukup lama?

Kemungkinan karena berat badan turun. Berat badan turun mempengaruhi perubahan metabolisme tubuh yang pada akhirnya mempengaruhi hormon. Akhir-akhir ini memang banyak yang mengomentari penampilan fisikku jadi semakin kurus. Kaget juga saat tadi menimbang di klinik, beratku cuma 41 kg. Pantas minggu kemarin Mba Yeti tumben-tumbenan memelukku dan mencium pipi kanan kiri ketika aku pamitan pulang dari Cililitan sambil berucap, “Melas temen adikku, deneng dadi gering temen lah..” Mungkin ini penampilan terkurusku di matanya. :'(

Lalu, bukannya ada flek pink beberapa minggu lalu?

Kemungkinan saat itu adalah masa subur. Dan flek pink di masa subur adalah sesuatu yang biasa kadang terjadi pada perempuan.

 

Sekian, dan tetap semangaaat! :)