Tag Archives: ibu

Walk The Talks

Walk The Talks

Hai. *datar*

Hari Minggu lalu aku merasa bahagia sekali. Sekaligus sedih. Hari itu kujumpai Ibu. Ibuku yang kurindukan, akhirnya kita bisa berjumpa lagi.

Setelah di Sardjito dokter mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mengobati sakit Ibu adalah dengan laparotomy, Ibu pulang untuk menimbang-nimbang. Dari cerita Lik Ripno, saudaraku di Cililitan yang pernah mengalami sakit yang sama, di RSPAD Gatot Subroto ada jenis operasi lainnya yang tidak perlu pakai acara sayat menyayat.

Saudara yang lain juga menyarankan Ibu untuk menjalani pengobatan alternatif di Jakarta yang sudah terbukti berhasil menyembuhkan sakit beberapa anggota keluarga besar kami.

Namanya juga sedang berikhtiar. Maka Ibu berusaha menempuh jalan-jalan pengobatan tersebut.

Ibu ke Jakarta dijemput oleh Mas Iin. Sekarang Ibu tinggal di rumah Mba Yeti. Saat kujumpai Ibu hari Minggu kemarin, badannya lebih kurus lagi dibanding sebelumnya. Terakhir aku menjenguk Ibu adalah ketika mudik lebaran. Saat itu Ibu sudah turun 20 kg dibanding berat sebelum sakit.

Ibuku yang dulu gemuk segar, kini terlihat kurus pucat. Ya Allah, sebenarnya hati ini begitu nelangsa. Tapi aku tidak boleh menangis di depan Ibu.

Mata Ibu yang berwarna kuning tetap bersinar penuh semangat. Perjalanan panjang Kebumen-Jakarta masih menyisakan kelelahan, tapi tidak mengurangi semangat yang menyala di dalam dirinya. Ibu… Engkau masih seperti yang dulu. Begitu kuat menghadapi lika-liku kehidupan.

Ibu, telah kau buktikan bahwa dirimu “walk the talks”.. Akan kuingat selalu pesanmu, bahwa aku harus tegar.

Sudah Cuti, Ngeblog Lagi…

Sudah Cuti, Ngeblog Lagi…

Sudah beberapa hari ini aku mulai menjalani cuti melahirkan. Alhamdulillah, akhirnya bisa terlepas dari jebak kemacetan lalu lintas dan desak-desak di dalam commuter line. Memang, yang paling melelahkan dari pekerjaanku adalah rutinitas perjalanan PP rumah-kantor. Biar kata di kantor ada pekerjaan seabrek yang mesti diselesaikan, itu belum ada apa-apanya dibandingkan rasa lelah menempuh perjalanan jauh ini. Ermmm, itu agak lebay. Kadang pekerjaan di kantor benar-benar menguras tenagahhh. :|

Ya bayangkan saja, rumah di Curug, kantor di Lapangan Banteng. Uh, jauuuhhh. Alhamdulillah, Allah memberiku kekuatan selama hamil ini untuk menempuh perjalanan sejauh itu. Kadang-kadang klenger juga sih. Ujung-ujungnya, kalau tidak mual muntah di kendaraan (hiii), mual muntah seturun dari kendaraan (hooo), ya mual muntah di rumah atau di kantor. Urgh, Reni joyoook. Tapi di atas semua itu, aku sangat bersyukur junior baik-baik saja. Junior hebaaat…

Banyak cerita-cerita kehamilan yang tidak kuabadikan di blog ini. Di awal kehamilan, sempat ada keinginan untuk menuliskan perkembangan junior. Selain buat kenang-kenangan, aku juga ingin menjadikan catatan kehamilan tersebut sebagai semacam pengingat atau pembanding di kehamilan berikutnya. Siapa tahu nanti junior punya adik. :D

Tapi, ya sudahlah. Cerita-cerita lalu sudah sebagian lupa. Nanti jadinya yang diceritakan tidak akurat lagi. Lagipula, setelah mulai masuk kerja, aku benar-benar sibuk malas menyentuh blog.

Maafkan Bunda ya, junior… Tidak apa-apa kan, nak? Sekarang, cerita yang bisa diceritakan saja. Lumayan mengisi waktu luang di masa cuti kehamilan ini. :)

Kendaraan jemputan

Pada awal September, Itjen mengeluarkan trayek jemputan baru, yaitu ke arah Islamik. Aku pun merangsek masuk ke dalam jemputan. Maksudnya? -_-

Aku meminta ijin untuk ikut jemputan Itjen ini khusus perjalanan pulang. Habis, kalau ikut yang pagi, jam setengah enam teng harus sudah berangkat dari rumah. Lebih lima menit atau sepuluh menit kemudian bisa-bisa sudah ditinggal. Jadi, untuk perjalanan pagi aku bayar per ikut, sedang untuk pulang sudah sekalian bayar per satu bulan.

Memasuki awal November, aku berhenti ikut jemputan ini. Kenapa oh kenapa? Pertama, karena aku sering flexi, bahkan telat. Perjalanan di tol Janger bertambah macet sejak ada kebijakan sterilisasi busway. Ermmm, ini kesimpulan agak asal saja sih. Kedua, aku sudah mau cuti. Mau bayar per hari kok malas. Ketiga, perjalanan pulang sudah semakin lama. Kemungkinan ya karena kebijakan sterilisasi busway itu. Pinggang dan pinggul pegal-pegal di dalam kendaraan. Jadi, daku untuk pulang lebih sering naik commuter line. Pilih kereta yang sudah sepi, ya jam tujuh malam ke atas lah. Lumayan, kalaupun mesti berdiri tak perlu berdesak-desakkan. Kalau dapat duduk ya syukur.

Pekerjaan

Jadi, di pertengahan September terjadi pergantian kekuasaan di MOP, tempat daku bekerja. Kepala Bagian diganti. Nah, si Kepala Bagian ini membawa sekretaris Bagian yang sudah bertahun-tahun mengabdi ke tempat barunya. Sebagai ganti sementara, ditunjuklah daku yang punya muka-muka lembar disposisi dan buku ekspedisi ini. Hadewww.

Sementara itu, pekerjaan lama daku yang antara lain mengurusi pidato, kunjungan mahasiswa, dsb juga masih berjalan. Apalagi bulan September-Oktober-November itu banyak acara pelantikan lah, Hari Oeang lah, dll. If you know what I mean...

Dan… jadi TU Bagian MOP itu ternyata benar-benar melelahkan. Salut untuk Bu Dorti! Surat-surat banyak. Kadang ada konseptor yang mau mengurusi sendiri surat keluar. Tapi lebih banyak yang dulu biasa dimanja TU Bagian MOP yang lama, sehingga semua surat diantarkan oleh daku. Belum tugas-tugas turunan dari TU Biro yang adaaa saja macamnya. Belum tugas-tugas lain yang tak bertuan yang jatuhnya ya ke TU Bagian. Tapi, daku selalu berkata kepada junior. Tugas ini dikasih ke Bunda biar Bunda rajin jalan-jalan. Kan ibu hamil disuruh rajin jalan-jalan. Semangat ya, nak… Sabar ya, Ren…

Yang lucu adalah, kalau daku sedang mengurusi surat-surat yang daku konsep sendiri, atasan daku sering meminta tolong si x atau si y untuk mengantarkan surat keluar ke yang tertuju. Tapi giliran surat-surat orang, malah daku sendiri yang biasanya mengantarkan. Hehehe.

Seiring menuanya kehamilan daku, pekerjaan di kantor boleh dikata semakin bertambah banyak. Sekali lagi, alhamdulillah… puji syukur kepada Allah karena junior sehat-sehat selalu. Setiap kali periksa, kata dokter normal-normal semua. Anak pintar kamu, nak… Rajin jalan-jalan kesana kemari pun ternyata kakiku tidak bengkak ataupun kram. Horeee!

Rencana persalinan

Awalnya aku berencana melahirkan di kampung. Ada klinik bersalin yang dokternya perempuan dan dikenal bagus di daerah Gombong. Biaya lebih murah dibanding di sini, dekat keluarga, klinik bagus dengan dokter perempuan yang juga oke, ahhh mantap deh kalau bisa melahirkan di Kebumen.

Tapi oh tapi, kita hanya bisa berencana, Allah yang pada akhirnya menentukan. Ibu sakit lagi. Awal November, kakakku di Kebumen sudah memintaku memikirkan opsi persalinan di Tangerang atau Jakarta. Kalau memaksakan diri melahirkan di Kebumen, ah sepertinya akan menyulitkan banyak orang. Ibu dan bayiku akan terganggu satu sama lain, dan aku sendiri mungkin jadi tidak fokus mengurusi bayiku.

Beberapa hari menjelang aku cuti, Ibu opname lagi di rumah sakit. Hiks hiks. Sedihnya double. Sedih Ibu sakit dan sedih karena tidak bisa melahirkan di Kebumen. Juga bingung karena rewang yang belum dapat-dapat.

Tapi kan ibu hamil tidak boleh stress dan harus selalu berpikiran positif. Maka mari kita pikirkan yang baik-baiknya saja. Ibu sakit kuning, dan setelah diperiksa jadi ketahuan ada batu di saluran empedu. Lalu, aku mengubah rencana menjadi melahirkan di sini, dan jadi bisa setiap hari berdekatan dengan suami. Yang positif-positif saja…

Yah, tapi pernah juga sih minta ijin ke junior untuk diperbolehkan menangis. Habis aku bingung… ngung… ngung…

Hari Selasa kemarin, aku ditemani Mas Ipin periksa ke bidan dekat rumah. Langsung si ibu bidan ngomel-ngomel karena tensiku cuma 85. Hb tidak jadi dicek karena aku belum sarapan. Seminggu sebelumnya periksa di Sari Asih tensi masih 110. Apa alatnya si ibu bidan yang rusak ya, hehe. Kemudian aku dan Mas Ipin mengubah strategi menjelang persalinan, dari masalah menu makanan, suplemen yang diminum, pola tidur, dll. Demi junior…

Demi aku juga sih. Kan aku dan junior akan berjuang bersama. Eh, Mas Ipin juga ikut berjuang ding. Ya demi kami bertiga, deh!

Apaan sih, Ren…

Sekarang, aku berusaha untuk berpikiran positif saja. Ini adalah yang terbaik buat kami. Aku dan junior bisa berdekatan selalu dengan Mas Ipin. Apapun yang terjadi menjelang persalinanku ini adalah kehendak Allah.

Ibu sakit, semoga segera disembuhkan. Aku sedang kurang fit, semoga segera dipulihkan. Rewang pengasuh bayi belum dapat, semoga segera ditemukan. Perlengkapan bayi belum lengkap semua, semoga nanti dapat kado yang banyak. Ehhh…

Semoga Allah memberikan kelancaran dan kemudahan pada kami menjelang, saat, dan sesudah persalinan nanti. Aamiin… *mengamini dengan kencang

Salam semangat! Read the rest of this entry

Blessing in Disguise

Blessing in Disguise

(judulnya kurang pas, tapi… ya sudahlah, hehe)

Sudah lama tidak membuat postingan berisi curhat-curhat ga jelas. :D

Mungkin klise ya kalau aku bilang hidup itu seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Tapi… memang seperti itu to? Tidak selamanya hidup itu indah. Ada kalanya kita mendapat masalah yang pelik. Masalah itu akan terasa berat atau ringan, tergantung dari bagaimana sikap kita dalam menghadapinya. Jiaaah, kalimatnya… Klise pol. :)

Menengok beberapa waktu ke belakang, sekitar dua bulan terakhir, ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku dan keluargaku. Ada kejadian yang membuat sedih, ada kejadian yang membahagiakan. Kalau dirunut, banyak kejadian itu malah terjadi berurutan. Selalu ada kemudahan sesudah kesulitan. Kuasa Allah memang begitu besar…

Hal yang paling aku takutkan sejak detik pertama aku meninggalkan rumah menuju perantauan adalah Ibu sakit. Dan ketika hal itu benar-benar terjadi, apalagi dengan vonis dokter yang mengatakan bahwa sakit Ibu sudah parah, hatiku terasa diremas-remas. Aku patah hati… Tapi aku punya orang-orang di sekitarku yang selalu menguatkanku. Suamiku tak pernah bosan menyemangati, menenangkan, dan mengingatkanku untuk terus berdoa. Kakak-kakakku juga terus berjuang bersama untuk mengusahakan kesembuhan Ibu.

Menginap sebulan di rumah sakit, tiga kali pindah rumah sakit sebagai usaha mencari kesembuhan, akhirnya kini alhamdulillah Ibu sudah pulang ke rumah. Meski belum benar-benar pulih, aku dan keluargaku sangat bersyukur bisa melihat Ibu kembali berada di rumah dan tersenyum ceria di tengah kami semua.

Selama Ibu sakit, ya memang benar kami anak-anaknya blingsatan, tetapi di sisi lain, banyak berkah yang dilimpahkan kepada keluargaku. Aku misalnya, alhamdulillah sekarang sedang hamil. :)

Aku dan suami sangat sangat bahagia. Ibu pun bahagia, karena beliau juga menantikan kehamilanku.

Aku mengetahui kehamilanku sesampainya aku di Bintaro dari pulang mudik menjenguk Ibu, akhir bulan April, menjelang sidang skripsi. Aku ingat, selama perjalanan di dalam bus menuju Bintaro, berulang kali kuingatkan Mas Ipin untuk membeli test pack. Selama menemani Ibu, beberapa kali Ibu berkata bahwa badanku panas. Pernah kubaca bahwa perempuan hamil muda itu biasanya suhu badannya meningkat. Waktu itu haidku juga sudah telat. Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar mandi, memakai test pack yang baru dibeli suami, dan tara… dua garis itu muncul. :)

Sekarang usia kehamilanku sekitar 10w4d (ini menurut hasil USG, tapi kalau dihitung dari HPHT beda lagi). Tadi siang aku dan suami baru ke dokter untuk yang kedua kalinya. Di pertemuan pertama, baru kantung janin yang kelihatan. Saat itu usia kehamilan diperkirakan baru 4-5 minggu. Tadi, aku dan suami sudah bisa melihat junior. Masih kecil, baru 3,4 cm, hehehe. Senangnya bisa melihatmu, nak. Semangat selalu di dalam, yaa. Semoga junior tumbuh sehat dan kuat, yaa. Aamiin. We love you so much, baby

Sidang skripsiku alhamdulillah juga berjalan lancar, padahal persiapanku minim. Bagaimana tidak minim, menjelang aku sidang, Ibu masuk ICU. Belajar cuma sedikiiit, pun yang aku pelajari sulit masuk. Selain karena pikiranku terus menerus tertuju ke Ibu, aku juga cepat lelah dan mudah mengantuk kalau diajak belajar. Mungkin karena saat itu sedang hamil muda, hehe. Atau bisa juga karena kecapekan bolak balik mudik. Dengan persiapan sidang yang begitu minim, aku sangat bersyukur bisa melewati sidang itu tanpa banyak hambatan.

Selang beberapa hari dari kabar kehamilanku, giliran Mas Ugo yang mendapat berita bahagia. Di awal bulan Mei, Mas Ugo mendapat mutasi dari Palembang ke Kebumen. Ibu sudah tidak tinggal sendiri lagi di rumah karena Mas Ugo dan keluarga kini tinggal bersama Ibu. Di rumah juga sudah siap sedia setiap saat kendaraan jika Ibu akan pergi kontrol ke rumah sakit atau ada urusan mendadak lainnya. Istri Mas Ugo juga seorang bidan, sehingga sedikit banyak mengerti ilmu kesehatan. Kalau sekedar untuk rutin mengukur tensi Ibu ya gampang lah, hehe. Kami sekeluarga seperti mendapat durian runtuh. :’)

Tak jauh beda denganku, berita bahagia mutasi itu menghampiri Mas Ugo sesampainya Mas Ugo di Palembang dari pulang menjenguk Ibu. Senin malam Mas Ugo bertolak dari Jogja ke Palembang dengan pesawat, sampai di rumahnya sudah larut malam. Beberapa jam kemudian, kalau tidak salah sekitar jam satu pagi, pengumuman mutasi keluar. Sudah begitu lama Mas Ugo mendambakan bisa mutasi ke Jawa. Dan bisa pulang ke Kebumen seperti mimpi baginya.

Masih banyak berita bahagia lain yang datang dari anggota keluarga lainnya. Allah memberi kemurahan yang begitu berlimpah kepada keluarga kami. Hal-hal yang kami damba sekian lama kini terwujud. Terima kasih ya, Allah…

Emmm, kira-kira begitu deh sesi curhat ga jelasku. Hehehe. Eh iya, jadi ingat pesan Aa Gym bertahun-tahun yang lampau. Pesan saat kita sedang menghadapi masalah. Ini nih…

Lima “jangan” dalam menghadapi masalah:

  1. Jangan panik;
  2. Jangan emosional;
  3. Jangan tergesa-gesa;
  4. Jangan mendramatisir;
  5. Jangan putus asa dari pertolongan Allah.

Aku suka pesan-pesan dari Aa Gym. Kini aku juga tiap hari dapat sms dari Aa Gym karena ikut layanan Gupshup. Gratis sih, jadinya ya ikut layanan ini, huehehe.

Duet

Duet

Tersebutlah sebuah drama seri di Kompas TV yang membuatku menangis sesenggukan siang ini: Duet. Kisahnya sederhana, ada seorang ibu yang membesarkan anak perempuannya seorang diri. Si ibu bernama Linda, diperankan oleh Adinia Wirasti. Si anak perempuan bernama Kidung, diperankan oleh Luna Shabrina, masih duduk di bangku SD. Kadang nenek Kidung alias ibu dari Linda datang mengunjungi mereka jauh-jauh dari Bandung. Si nenek dimainkan oleh Jajang C. Noer.

Kisah itu terasa familiar. Yang pertama, tentu karena aku punya seorang ibu yang sekaligus berperan sebagai bapak, membesarkan anak-anaknya seorang diri. Dulu ibu dari Ibu alias Mbah Klirong juga kadang datang ke rumah, seringkali untuk menemaniku kalau Ibu harus pergi keluar kota selama beberapa hari.

Kidung ini anak yang baik dan mandiri. Tapi namanya juga anak kecil… Sesusah payahnya Linda berusaha memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, kadang Kidung merasakan ada sesuatu yang kurang. Akhirnya dia ngambek, ingin sesuatu yang lebih.

Aku pernah berada di posisi seperti itu. Ngambek karena ingin sesuatu tetapi Ibu tak bisa memenuhinya. Padahal menurutku yang aku inginkan bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dipenuhi. Iya iya, itu hanya menurutku…

Kalau teringat perjuangan ibu kita masing-masing saat membesarkan kita memang kadang bikin terharu. Maklum lah ya. Apalagi sekarang setelah kondisi kesehatan Ibu yang menurun, rasanya ingin menoyor-noyor diri sendiri kalau ingat betapa dulu sering bikin susah Ibu.

BTW, drama seri yang bagus kalau kubilang. Cerita tidak lebay tapi banyak pesan moral, akting pemain juga alami. Suka. :)

Dapat SIM B

Dapat SIM B

“Bla bla bla..”
“Bla bla bla..”
“Na na na..”
“Na na na..”
“Bu, aku mau minta ijin. Sekarang aku boleh menjadi bocah yang ga manut, ya.”
“Hehehe.. Masa sama Ibu mau ga manut juga?”
“Ya kalo sama Ibu sih masih manut.”
“Hehe..”
“Sekarang pokoknya mau percaya sama diri sendiri aja. Ga mau ngikutin omongan orang.”
“Ya Reni kan emang udah dewasa, berhak punya prinsip yang dipertahankan. Tapi masa mau ga percaya sama Ibu juga? Kan Ibu selalu menjaga amanah Reni, ga pernah berkhianat..”
“Ya kalo sama Ibu sih masih percaya.”
“Bla bla bla..”
“Bla bla bla..”
“Na na na..”
“Na na na..”

Asyik, sudah mendapat SIM B (Surat Ijin Menjadi Bocah-tidak-manut).