Tag Archives: curhat

Blessing in Disguise

Blessing in Disguise

(judulnya kurang pas, tapi… ya sudahlah, hehe)

Sudah lama tidak membuat postingan berisi curhat-curhat ga jelas. :D

Mungkin klise ya kalau aku bilang hidup itu seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Tapi… memang seperti itu to? Tidak selamanya hidup itu indah. Ada kalanya kita mendapat masalah yang pelik. Masalah itu akan terasa berat atau ringan, tergantung dari bagaimana sikap kita dalam menghadapinya. Jiaaah, kalimatnya… Klise pol. :)

Menengok beberapa waktu ke belakang, sekitar dua bulan terakhir, ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku dan keluargaku. Ada kejadian yang membuat sedih, ada kejadian yang membahagiakan. Kalau dirunut, banyak kejadian itu malah terjadi berurutan. Selalu ada kemudahan sesudah kesulitan. Kuasa Allah memang begitu besar…

Hal yang paling aku takutkan sejak detik pertama aku meninggalkan rumah menuju perantauan adalah Ibu sakit. Dan ketika hal itu benar-benar terjadi, apalagi dengan vonis dokter yang mengatakan bahwa sakit Ibu sudah parah, hatiku terasa diremas-remas. Aku patah hati… Tapi aku punya orang-orang di sekitarku yang selalu menguatkanku. Suamiku tak pernah bosan menyemangati, menenangkan, dan mengingatkanku untuk terus berdoa. Kakak-kakakku juga terus berjuang bersama untuk mengusahakan kesembuhan Ibu.

Menginap sebulan di rumah sakit, tiga kali pindah rumah sakit sebagai usaha mencari kesembuhan, akhirnya kini alhamdulillah Ibu sudah pulang ke rumah. Meski belum benar-benar pulih, aku dan keluargaku sangat bersyukur bisa melihat Ibu kembali berada di rumah dan tersenyum ceria di tengah kami semua.

Selama Ibu sakit, ya memang benar kami anak-anaknya blingsatan, tetapi di sisi lain, banyak berkah yang dilimpahkan kepada keluargaku. Aku misalnya, alhamdulillah sekarang sedang hamil. :)

Aku dan suami sangat sangat bahagia. Ibu pun bahagia, karena beliau juga menantikan kehamilanku.

Aku mengetahui kehamilanku sesampainya aku di Bintaro dari pulang mudik menjenguk Ibu, akhir bulan April, menjelang sidang skripsi. Aku ingat, selama perjalanan di dalam bus menuju Bintaro, berulang kali kuingatkan Mas Ipin untuk membeli test pack. Selama menemani Ibu, beberapa kali Ibu berkata bahwa badanku panas. Pernah kubaca bahwa perempuan hamil muda itu biasanya suhu badannya meningkat. Waktu itu haidku juga sudah telat. Sesampainya di rumah, aku langsung ke kamar mandi, memakai test pack yang baru dibeli suami, dan tara… dua garis itu muncul. :)

Sekarang usia kehamilanku sekitar 10w4d (ini menurut hasil USG, tapi kalau dihitung dari HPHT beda lagi). Tadi siang aku dan suami baru ke dokter untuk yang kedua kalinya. Di pertemuan pertama, baru kantung janin yang kelihatan. Saat itu usia kehamilan diperkirakan baru 4-5 minggu. Tadi, aku dan suami sudah bisa melihat junior. Masih kecil, baru 3,4 cm, hehehe. Senangnya bisa melihatmu, nak. Semangat selalu di dalam, yaa. Semoga junior tumbuh sehat dan kuat, yaa. Aamiin. We love you so much, baby

Sidang skripsiku alhamdulillah juga berjalan lancar, padahal persiapanku minim. Bagaimana tidak minim, menjelang aku sidang, Ibu masuk ICU. Belajar cuma sedikiiit, pun yang aku pelajari sulit masuk. Selain karena pikiranku terus menerus tertuju ke Ibu, aku juga cepat lelah dan mudah mengantuk kalau diajak belajar. Mungkin karena saat itu sedang hamil muda, hehe. Atau bisa juga karena kecapekan bolak balik mudik. Dengan persiapan sidang yang begitu minim, aku sangat bersyukur bisa melewati sidang itu tanpa banyak hambatan.

Selang beberapa hari dari kabar kehamilanku, giliran Mas Ugo yang mendapat berita bahagia. Di awal bulan Mei, Mas Ugo mendapat mutasi dari Palembang ke Kebumen. Ibu sudah tidak tinggal sendiri lagi di rumah karena Mas Ugo dan keluarga kini tinggal bersama Ibu. Di rumah juga sudah siap sedia setiap saat kendaraan jika Ibu akan pergi kontrol ke rumah sakit atau ada urusan mendadak lainnya. Istri Mas Ugo juga seorang bidan, sehingga sedikit banyak mengerti ilmu kesehatan. Kalau sekedar untuk rutin mengukur tensi Ibu ya gampang lah, hehe. Kami sekeluarga seperti mendapat durian runtuh. :’)

Tak jauh beda denganku, berita bahagia mutasi itu menghampiri Mas Ugo sesampainya Mas Ugo di Palembang dari pulang menjenguk Ibu. Senin malam Mas Ugo bertolak dari Jogja ke Palembang dengan pesawat, sampai di rumahnya sudah larut malam. Beberapa jam kemudian, kalau tidak salah sekitar jam satu pagi, pengumuman mutasi keluar. Sudah begitu lama Mas Ugo mendambakan bisa mutasi ke Jawa. Dan bisa pulang ke Kebumen seperti mimpi baginya.

Masih banyak berita bahagia lain yang datang dari anggota keluarga lainnya. Allah memberi kemurahan yang begitu berlimpah kepada keluarga kami. Hal-hal yang kami damba sekian lama kini terwujud. Terima kasih ya, Allah…

Emmm, kira-kira begitu deh sesi curhat ga jelasku. Hehehe. Eh iya, jadi ingat pesan Aa Gym bertahun-tahun yang lampau. Pesan saat kita sedang menghadapi masalah. Ini nih…

Lima “jangan” dalam menghadapi masalah:

  1. Jangan panik;
  2. Jangan emosional;
  3. Jangan tergesa-gesa;
  4. Jangan mendramatisir;
  5. Jangan putus asa dari pertolongan Allah.

Aku suka pesan-pesan dari Aa Gym. Kini aku juga tiap hari dapat sms dari Aa Gym karena ikut layanan Gupshup. Gratis sih, jadinya ya ikut layanan ini, huehehe.