(Belum Jadi) Back To Reality

(Belum Jadi) Back To Reality

Senin kemarin, aku sudah menyiapkan fisik dan mental untuk menghadapi hari baru: masuk dunia kerja lagi. Kembali ke duniaku yang sebenarnya setelah selama 2,5 tahun ini hidup seperti di alam mimpi (halah). Eh, ternyata masuk kerjanya tidak jadi minggu ini… :)

Jadwal hari pertama adalah lapor ke Biro SDM dan TU Biro. Karena surat pengembalian dari kampus belum ada, Biro SDM menelepon kampus untuk menanyakan kapan TMT kami masuk dan kapan surat pengembalian dikirim. Jawabannya adalah TMT masuk minggu depan, sedangkan surat pengembaliannya belum dibuat kampus.  Sebenarnya boleh saja kami masuk mulai minggu ini. Tapi kami memilih masuk minggu depan saja. :D

Kemarin ada kejadian yang membuatku jadi tak enak hati. Ada ucapan yang mungkin tidak perlu kuucapkan. Waktu itu TU Biro menanyakan berulang kali ke kami, maunya penempatan di tempat semula, atau mau di tempat baru. Aku jawab, kalau bisa di tempat baru, mungkin di tempat baru saja. Kalau tidak bisa, ya di tempat semula saja. Beberapa yang lain ada yang mengiyakan, tapi ada pula yang tampaknya tak setuju. Kemungkinan penempatan di tempat baru memang kecil karena di Biroku pegawai tugas belajar itu memang biasanya kembali di tempat kerjanya semula. Tapi, tetap saja aku tak enak hati. Mungkin kemarin aku lebih baik diam saja, daripada mengatakan sesuatu yang mungkin akan berdampak tidak baik untuk orang lain. Menyesal itu memang di akhir-akhir yaa.

Jadi ya Ren, besok-besok kamu lebih hati-hati dalam berbicara. :)

Dan… nanti malam insya Allah kita akan mulai shalat tarawih. Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1434 H. Semoga kita bisa mengisi bulan ini dengan banyak amal ibadah. Aamiin… Ayo Ren, semangaaaat!

Sekali Mendayung

Sekali Mendayung

Setelah enam bulan menunggu, alhamdulillah e-KTP-ku sudah jadi. Kebetulan sekali, karena bulan ini memang KTP jadulku juga sudah habis masa aktifnya, emmm, masa berlakunya maksudku. :)

Selasa kemarin mainlah aku ke Cililitan. Pertama, untuk mengambil e-KTP milikku. Kedua, untuk mengantarkan titipan dari kakakku Mas Ugo kepada kakakku Mba Yeti. Ketiga, untuk menengok hasil renovasi rumah Mba Yeti yang baru jadi semingguan ini. Keempat, untuk menyerahkan HP Esia-ku yang menganggur ke adik ipar Mas Ipin yang HP Esianya baru hilang di jalan entah dicopet entah jatuh, yang aslinya tinggal di Sunter, tapi kusuruh main ke Cililitan, huahahaha. Kelima, untuk mampir ke PGC, menengok baju kerja, baju hamil, tas kerja, sepatu kerja, dll (tenang, tidak ada yang kubeli satupun). Keenam, untuk bertemu dengan keponakan-keponakanku tercinta terutama yang sedang libur sekolah. Ketujuh, untuk dan lain sebagainya.

Wah, kok bisa jadi banyak benar daftar tujuannya?

Seusai aku memperoleh kabar e-KTP sudah jadi dari tetanggaku dulu di Cililitan sana, aku segera menghubungi Mas Ugo, “Cepat kirim titipanmu segera, aku mau ke rumah Mba Yeti hari Selasa.” Sesudah itu, aku segera mengabari Mba Yeti, “Mba, hari Selasa ada di rumah ga? Rumah udah jadi kan? Aku mau main.” Kemudian Mas Ipin menelepon adik iparnya, “Kamu jadi pake HP Esianya ga? Mau ga ngambilnya di Cililitan?” Lalu, last but not least, aku menyiapkan dana untuk persiapan beli membeli di PGC. :D

Nah, begitulah. Suami tercinta seriiing sekali berpesan: kalau bepergian jauh itu usahakan untuk lebih dari satu tujuan. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sebagai sesama murid setia Bu Yusti, daku manut saja lah apa kata suami. Awalnya memang malas mencari pulau mana lagi yang bisa dilampaui, apalagi kalau mesti nge-push orang untuk menyegerakan sesuatu (daku orangnya ga enakan si). Tapi kalau dia yang butuh bantuan kita, masa dia tidak mau usaha sedikit sih? :p

Rada rempong ya, cyiiin. Tapi dinikmati saja. :D

Junior

Junior

Sesekali lah bikin postingan khusus tentang junior. Selama ini kan biasanya tercampur-campur dengan cerita lain. Hemmm, mulai cerita dari mana ya? *brb lihat postingan orang lain seputar perkembangan janin*

Junior sekarang kalau kata dokter usianya 13 minggu. Kalau dari hitungan sendiri sih sudah 16 minggu. Pernah kutanya ke dokter mengenai selisih yang cukup jauh ini. Jawabnya, “Mungkin Ibu lupa tanggal HPHT-nya. Lagipula selisih itu biasa kok, Bu.” Baiklah… Berapapun usiamu, yang penting kamu sehat-sehat ya, Nak. :)

Pertama kali periksa di klinik Permata Bintaro dengan dokter Riyana. Saat itu masih baru kelihatan kantung janin, usianya diperkirakan baru 4-5 minggu. Periksa kedua kali di klinik daerah dekat rumah (lupa namanya), dengan dokter xxx (lupa juga namanya). Usia diperkirakan sudah 10-11 minggu. Periksa selanjutnya masih belum diputuskan mau dimana. Dari dulu kalau periksa ke dokter kandungan, aku sukanya di klinik. Kalau di rumah sakit, kudengar biasanya antriannya panjang. Nanti dipikirkan lagi ya Nak kamu mau diperiksa kemana. Di klinik boleh, di rumah sakit juga boleh.

Aku sangat merasa bersalah kepada junior karena di awal-awal kehamilan dia sering kubawa bepergian jauh. Sering juga kubawa begadang. Hiks. Alhamdulillah sekarang junior tetap sehat dan baik-baik saja.

Di bulan April aku mudik ke Kebumen dua kali. Saat itu masih belum tahu kalau sedang hamil. Di bulan Mei aku bepergian jauh lagi, kali ini ke Jogja karena Ibu saat itu sudah pindah dirawat di Sardjito. Perjalanan ke Jogja adalah perjalanan yang beraaat. Sendirian naik bus, terjebak 21 jam di jalan karena macet, sempat dioper ke bus lain, dan mabok sepanjang perjalanan, paling parah saat dari Brebes sampai Jogja. Tiap diisi makanan, beberapa saat kemudian makanan itu akan keluar lagi. Tersiksaaa. Sepanjang perjalanan aku terus berdoa semoga junior baik-baik saja dan memintanya supaya kuat. Kalau ingat perjalanan itu, hrrr, begidik sendiri.

Lalu bulan Juni kemarin, Ibu memintaku pulang lagi. Ada acara syukuran di rumah. Sebenarnya dokter dan suami kurang setuju aku pulang, tapi aku tidak kuasa menolak permintaan Ibu. Alhamdulillah suami mengijinkan. Jadilah pulang, kali ini bisa dapat tiket kereta PP. Tetap saja ya mabok meski naik kereta, hehe. Tapi naik kereta jauuuh lebih cepat dan nyaman dibanding naik bus tempo hari.

Soal ngidam makanan, tidak ada makanan yang junior idam-idamkan sampai sebegitunya. Kedondong, rujak bebek, nasi goreng buatan suami (yang mana cuma dimakan beberapa suap karena rasanya biasa saja #upsss), dan pempek adalah beberapa makanan yang sempat menjadi idaman junior.

Urusan makanan sehari-hari, paling suka makan pakai sayur bayam dan tempe goreng. Atau pakai rebusan daun, sambal krosak, dan tempe goreng. Junior sepertinya tergila-gila dengan tempe goreng. Suka juga dengan udang dan cumi. Eh iya, junior juga suka dengan roti panggang isi pisang dan cokelat. Suamiku juga kebetulan suka roti panggang sebagai menu sarapan pagi. Jadi klop deh si junior dengan ayahnya, hehe. Tadinya junior sukanya piscok, tapi karena berminyak banget, maka aku ganti dengan roti panggang isi pisang cokelat tadi. Sekalian biar sandwich toaster yang di rumah bisa terpakai, jadi kan suamiku nanti tergerak untuk membelikan peralatan masak memasak lainnya. #modus

Sudah tiga bulan hamil, berat badanku masih tetap seperti bulan pertama hamil. Perutku juga masih tampak rata, masih kalah jauh dengan perut suami. Kalau suami menyapa junior, biasanya junior akan balas menyapa yang ada di dalam perut suami (doh). Sempat khawatir dengan perut yang masih kecil ini, tapi kata beberapa orang itu wajar-wajar saja. Ya sud. :)

Kira-kira demikian cerita tentang junior. Tetap saja ya, tercampur dengan cerita-cerita lainnya. Semangat selalu, junior. Sehat-sehat di dalam ya. We love you so much, baby

♫♫ Keane on Me ♫♫

♫♫ Keane on Me ♫♫

Ada beberapa lagu yang sekarang sedang sering kuputar di rumah. Semuanya dari album pertama Keane: Hopes and Fears. Sebagian lagu cukup mencerminkan suasana hatiku akhir-akhir ini. :D

1. Somewhere Only We Know

Suka lagu ini karena pernah menjadi soundtrack serial Grey’s Anatomy, salah satu serial favoritku. Duh, jadi teringat kalau aku tidak menonton beberapa seri terakhir Grey’s Anatomy season 9. Hiks hiks. Suatu waktu Mas Ipin memutar satu lagu ini di rumah berulang-ulang. Eladalah, ternyata suamiku punya Somewhere Only We Know to… Dan kayaknya juga cukup suka, lha sampai diputar berulang-ulang begitu.

Lagu ini juga enak untuk jadi backsound acara mengobrol serius dengan suami. Kami bisa bertahan sampai berjam-jam bicara dari hati ke hati tanpa perlu disertai emosi yang meledak-ledak. Mungkin terbawa musik yang adem. Kalau urusan lirik, memang sih rada kurang pas didengar, lha bercerita tentang pasangan yang seakan-akan mau pisah, hehe. Semoga kami tidak akan pernah seperti itu ya. Untungnya kami tidak begitu ngeh liriknya berbunyi seperti apa. Dan juga tidak paham-paham amat sih apa artinya. :D

2. Everbody’s Changing

Banyak hal di sekitarmu berubah. Kadang perubahan itu membuat kamu merasa kehilangan pegangan. Mau tidak mau, kamu harus ikut berubah. Kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.

Tidak semua perubahan bisa kamu terima dengan lapang dada. Inginmu banyak hal tidak berubah. Tapi mungkin kamu sendiri sebenarnya sudah banyak berubah. Yah, begitulah hidup.

*opo iki? iki opo?*

3. Bend and Break

Lagu nge-beat, cocok lah buat senam pagi, huehehe. Tapi liriknya… hemmm, dalam dan romantis abis. Cukup bikin emosional, apalagi kalau mendengarkan lagu ini di dekat pasangan.

Aku dan Mas Ipin pernah merekam suara kami masing-masing saat menyanyikan lagu ini. Duh, kacau balau suaranya, haha. Kami pakai headset dengan volume suara yang keras, sehingga saat menyanyikan lagu ini kami tidak tahu seperti apa suara kami terdengar. Tahu lah seperti apa suara orang menyanyi yang di telinganya ada headset. Dunia seperti milik sendiri. -__-

Yak. Itulah lagu-lagu backsound hidupku untuk saat ini. #tsaaah

Bersama Kita Bisa

Bersama Kita Bisa

Jaman masih berangkat pulang kerja Cililitan-Wahidin naik motor, saat sedang melaju sendirian di tengah jalanan Jakarta, adalah saatku paling nyaman untuk “bicara dengan diri sendiri”. Saat melaju di atas motor itu… aku merasa bisa berpikir dengan jernih, mengurai apa saja sebenarnya yang aku inginkan, atau justru apa saja yang kusesali. Tidak jarang, tekad-tekad tertentu terkait kehidupanku dibuat ketika itu. :)

Kemarin Jumat untuk pertama kalinya aku naik motor sendiri dari rumah ke kampus. Biasanya kalau aku ada urusan di kampus, Mas Ipin selalu antar jemput. Menempuh perjalanan rumah-kampus sendirian lebih dari 25 km memberiku kesempatan untuk kembali menikmati masa-masa “bicara dengan diri sendiri”. Pikiranku lebih banyak berkutat pada rumah dan persiapan kerja yang memang menjadi sumber kegalauanku beberapa minggu terakhir. Sejak pindahan ke sini, aku belum benar-benar bisa betah. Aku masih sering merasa… I don’t belong here. Di sini tetangga-tetangga baik dan menyenangkan kok. Rumah kami juga dekat dengan berbagai tempat untuk memenuhi kebutuhan kami, intinya hidup masih normal-normal saja seperti sebelumnya meski kini judulnya di pelosok.

Tapi ada yang mengganjal. Rumah kami jauh dari sanak saudara. Jauh dari kantorku juga. Saat masih belum hamil dan belum pindahan, aku beberapa kali mencoba naik bus dari Karawaci ke kantor. Iya, ada macetnya, tapi cuma sekali naik langsung turun di depan kantor. Pernah juga mencoba naik CL Serpong-Tanah Abang. Dari rumah ke stasiun Rawabuntu BSD memang jauh, tapi Mas Ipin toh siap antar jemput tiap hari. Saat itu sih semua terasa ok-ok saja. Aku pede bisa menempuh perjalanan itu nanti saat bekerja.

Menjadi beda cerita ketika aku sudah pindahan. Pindah ke sini di trimester pertama kehamilan dimana banyak acara mual muntah. Menempuh perjalanan rumah-kampus hampir selalu mual, baik diantar naik mobil maupun naik motor. Apalagi kalau naik mobil, muntahnya sampai njungkel-njungkel. Bagaimana ini kalau mau ke kantor besok? Pilihan naik bus langsung kucoret dari rencana. Lalu, didukung perasaan “I don’t belong here” yang sudah kurasakan sejak awal, aku mengajukan sebuah permintaan ke suami. Sementara aku hamil, tempat tinggal jangan di sini dulu, mari kita pindah ke suatu tempat yang lebih dekat sanak saudara dan kantorku. Weekend boleh lah di rumah sendiri, tapi Senin-Jumat mari kita mengontrak.

Read the rest of this entry