Ber-’Wisata Kuliner’

Ber-’Wisata Kuliner’
jogja

jogja

Banyak orang menyukai kota Jogja, termasuk aku. Kota yang mbetaih dan ngangenin, bikin aku ingin kembali, kembali, dan kembali lagi.

Sudah lama aku jatuh hati kepada kota ini, sejak masih SD. Padahal hingga SMP, aku tidak yakin pernah kesana atau belum. Nah, lho… Kok dulu bisa suka padahal belum yakin pernah mengunjunginya?

Waktu itu, ada lomba Pramuka, Pesta Siaga namanya. Alhamdulillah, barungku dari kecamatan Adimulyo berhasil meraih peringkat kedua di tingkat kabupaten dan meneruskan perjuangan mendampingi barung peringkat pertama ber-Pesta Siaga di tingkat karesidenan.

Pesta Siaga tingkat karesidenan Kedu diadakan di kota Magelang. Kami bertemu dengan anggota Pramuka Siaga dari Magelang, Temanggung, Purworejo, dan Wonosobo. Dan saat itu, aku baru menyadari bahwa logat bicara barungku jauh berbeda dengan barung-barung dari daerah tersebut. Heran juga, kok bisa ya, Kebumen itu masuk ke Karesidenan Kedu, padahal secara bahasa menurutku lebih cocok masuk ke Karesidenan Banyumas…

Selesai ber-Pesta, malam pun datang menjemput. Kami bergegas pulang dengan membawa lelah sekaligus bahagia, meski tanpa piala. Sempat berhenti di beberapa tempat, tapi aku sudah lupa berhenti dimana saja. Nah nah nah, tempat-tempat itulah yang dalam anganku kupikir sebagai Jogja…

Duh, kok bisa yaaa kupikir itu Jogja?
Entah itu Jogja, entah bukan. Entahlah…

Aku terpesona dengan keramahan orang-orang yang aku temui di perjalanan pulang. Lalu, kupikir yang ramah-ramah itu adalah orang Jogja. Aku terkesan dengan jalan aspal yang kulewati. Dan yang ada di dalam benakku itu adalah jalanan Jogja. Aku tertarik dengan tulisan ‘itah-itah id nalaj’ di truk-truk yang ada di depan kendaraanku. Dan, mulai saat itulah aku suka menggunakan istilah ‘itah-itah id nalaj’ untuk menggantikan ‘hati-hati di jalan’. Hoh, sebegitunya aku dengan perjalanan malam itu.

Dan, yang paling berkesan dari Jogja dalam anganku adalah… kacang telur! Kumakan ia malam itu di perjalanan dari Jogja (dalam anganku lho ya :P) ke Kebumen, di antara mengantuk, pusing, lelah, dan bahagiaku.

Tak dinyana… Kacang telur itu ternyata rasanya enaaaaaaaaak sekali… Pusing-pusingnya jadi menghilang sedikit demi sedikit. Aku seperti dibius oleh kenikmatan protein nabati campur protein hewani yang pas komposisinya dan enak tiada tara… Kacang telur Jogja enaknya selangit. Kacang telur Jogja dalam anganku. Hehehehe…

Yah, begitulah kisah awal suka pada kota Jogja. Rada-rada aneh gimana gitu. :P
Kemudian, beberapa hari berselang, aku kembali ke Jogja. Aku suka kota Jogja. Aku sukaaa…
Kali ini untuk wisata kuliner.

Apakah aku ingin mencari ‘kacang telur Jogja dalam anganku’?
Tidak…

Ow, kalau begitu aku ingin mencoba sate klathak ya, atau sate kelinci di Kaliurang, atau gudeg terkenal, atau bakpia yang masih hangat?
Juga tidak…

Kalau begitu, aku mau makan apa kesana?

Aku ingin mencoba makanan yang sering kudengar dari mulut seseorang yang sekarang sedang tinggal di sana.

“Aku udah sarapan burjo tadi…”
“Roti kacang ijonya abis, ya?”
“Tadi sama gorengan satu..”
“A’, pesen coffee mix-nya satu ya…”
“Tadi udah makan nasi telur…”
“Semalem diajakin makan di Warung Steak…”
“Mau beli capcay ah, laper…”

Lah? Makanan itu mah ada dimana-mana, Ren…

Tidak! Makanan itu hanya ada di sana.
Hehehe.. Yah, namanya juga penasaran.

burjo, teh manis anget, roti kacang ijo, macam-macam kopi dan minuman, dan lain-lain

burjo, teh manis anget, roti kacang ijo, macam-macam kopi dan minuman, dan lain-lain

nasi ayam, gorengan, krupuk, dan televisi

nasi ayam, gorengan, krupuk, dan televisi

Ohya, aku juga ke KuFC alias Kentuku Fried Chicken. Kentuku itu adalah bahasa Jawa, yang artinya adalah… ada deh… :D

ikutan logo KuFC :P

ikutan logo KuFC :P

Logo KuFC adalah ayam jago yang mengacungkan kedua jempol tangan eh jempol sayapnya. Heee, memang ayam punya jempol, yah?

Makanan yang kumakan itu, selain harganya miring, rasanya juga enaaak. Burjonya legit, dan harganya cuma Rp 2.000,00 semangkok! Bandingkan dengan Rp 6.000,00 (apa Rp 7.000,00 ya?) di kantin kantor dengan rasa yang masih kalah jauh… [hohoho… maap ya penjual burjo di kantin Aldida…]

KuFC-nya juga enak, tidak beda jauh dengan KFC dan sebangsanya, dan harganya jauh lebih muraaah. Dua porsi nasi dan ayam plus segelas teh manis hangat dan segelas air putih dibrandol Rp 15.000,00 saja… Terus, nasi ayamnya juga mengenyangkan, dan lumayan lezat, meski masih ada yang lebih lezat, hehehe… Yang jelas harganya juga murah.

Sayangnya, belum semua makanan yang ingin kumakan berhasil kucicip. Tak apa. Setidaknya, aku sudah berhasil mencicip burjo, gorengan, krupuk, nasi ayam, steak di Warung Steak, es campur, dan lain-lain yang aku lupa, para makanan yang selama ini aku penasaran seperti apa rasanya. Mungkin lain waktu mencicip yang lain, mungkin lain waktu menikmati sate klathak, gudeg terkenal, dan lain-lain. :)

Em em em, ini adalah perjalanan wisata kuliner yang sulit dimengerti oleh orang lain, tapi yang jelas, ini adalah perjalanan wisata kuliner yang murah dan membahagiakan. :P

4 Responses »

  1. Reni…

    Sepertinya rasa makanan yang kamu ceritakan enak yah..

    Reni,, aku cemburu.
    Aku jadi kangen Reni.. (yang dulu..)

    fairuzdarin: Aku dari dulu gini-gini aja, Tom.. Jangan cemburu gitu.. :)

  2. dokumentasikan selalu hidupmu ya ren…
    hikss, blogku kok ga pernah aku update ya…. hiksss

    fairuzdarin: Iya ni, jarang update. Jangan malas gitu dong, Pin..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge