Nyali Si Bungsu

Nyali Si Bungsu

Perempuan, beberapa bulan lagi menginjak umur 24 tahun, tapi belum bisa, eh, lebih tepatnya belum berani menimang bayi yang masih berumur di bawah enam bulan. Malah, pada beberapa kasus, bayi sudah berumur di atas itu pun dia masih belum bernyali untuk menggendongnya. Hemmm… ~__~

Memang sih, dia anak bungsu. Tapi, keponakannya banyak. Pada umurnya yang hampir 24 itu, dia punya sebelas keponakan. Sebanyak itu, tidak satu pun yang dia berani gendong pas mereka masih jadi bayi imut-imut. Ck ck…

Bukan berarti dia tidak suka bayi. Menjaga bayi sih sering, mengajak bicara biasa, menemani tidur, mengipasi, dan lain sebagainya bukan hal baru… Tapi yang namanya menggendong (plus memandikan, menceboki, dan sebagainya sih, hehe), takutnyaa minta ampun. Masya Allah. Mengherankan. Bagaimana dia bisa jadi ibu yang baik kalau begini ceritanya, yah??

Eh, tunggu dulu. Ada teman bijaknya bilang, kemampuan perempuan untuk merawat bayi setelah dia resmi menyandang gelar sebagai ibu seperti plug and play. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setelah memiliki bayi, otomatis ibu akan memiliki kemampuan menggendong, memandikan, menceboki, dan sebangsanya, meski sebelumnya dia belum pernah melakukan itu. Naluri ibu akan memaksanya bisa mengerjakan hal-hal tersebut. Akan tetapi, benarkah akan semudah itu jalannya? Benarkah??

Sayangnya, perempuan tersebut tidak dapat dengan mudah percaya begitu saja.

Seandainya perempuan dimaksud bisa gampang percaya, tentunya dia tidak akan sekhawatir ini.

Hiks hiks hiks.

Tidak semudah itu.
Segalanya butuh latihan.
Practice makes perfect.
Itu yang ia percayai.

Dia butuh banyak latihan. Tapi, adakah ibu yang bersedia untuk meminjamkan bayinya sebentar untuk disentuh oleh seseorang yang takut memegang bayi sepertinya? Ada… Insya Allah. Nah itu kakak-kakaknya masa tidak kasihan kepadanya? Tapi… deg deg deg… belum apa-apa, dia sudah deg-degan. Nyalinya ciuuut…

T_T

Dia sudah pernah menghapal teori menggendong bayi. Topang leher dan kepalanya. Gunakan tangan kiri untuk menyangga leher dan kepala, pakai tangan kanan untuk menyangga pantat dan pinggang. Timang bayi dengan percaya diri. Timangan yang tidak mantap akan terasa kaku sehingga tidak nyaman bagi bayi.

Yah, kira-kira begitu lah teori yang pernah dia dengar.

Praktiknya? NOL besar.

:(

Nyalinya ciut…

Mungkin karena dia punya pengalaman buruk di masa lalu. Pada masa SD-nya, dia pernah ditugasi menjaga keponakannya yang berusia sekitar satu tahun. Amanah itu tidak bisa ia pertanggungjawabkan dengan baik karena si keponakan kepalanya benjol akibat terjatuh bersamanya saat turun dari tempat tidur.

Meski tidak mengalami luka serius, sang keponakan menangis dengan keras. Sampai beberapa hari, dia tidak mau dimomong oleh tante kecilnya itu. Hingga kini, tampaknya perasaan bersalah campur takut itu belum sepenuhnya menghilang dari hati si tante. Padahal, sudah belasan tahun kejadian itu berlalu.

Akhir pekan kemarin, dia pergi ke toko buku di daerah Matraman. Dia sisir daerah buku bacaan tentang kehamilan, kelahiran, perawatan bayi, dan sejenisnya, lalu dia temukan sebuah buku berjudul “Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita”. Timbul rasa tertarik untuk membelinya, apalagi ada VCD tentang panduan merawat bayi dan balita yang disertakan dalam buku itu. Tapi, si perempuan urung membeli. Selain karena tidak ada keterangan panduan menggendong bayi yang benar, ternyata dompetnya juga sedang tipis.

Tampaknya, banyak orang berpikir bahwa menggendong bayi adalah sesuatu yang mudah dipelajari sehingga tidak memerlukan panduan khusus.

Adalah nyali. Adalah nyali.

Adalah nyali. (pamali kalo ga tiga kali nyebut)

Dia tahu bahwa dia harus berani mencoba. Harus lebih pede menghadapi mahluk mungil bernama bayi. Berlatih dengan sungguh-sungguh. Harus lebih bernyali.

Adalah nyali.

:(

Jadi, sudah ada yang bernyali bersedia untuk meminjamkan bayinya?

===

*Lirik-lirik isi dompet, “Kapan tebelnya, yahh? Mau buat modal nikah terus bikin bayi sendiri beli buku “Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita” di Gramed…”

2 Responses »

  1. Aku sudah membopong bayi, sampai tertidur setelah kutimang-timang. Rasanya membahagiakan lho ren. Padahal kunyanyikan lagu dari The rain..eh dianya tertidur. Kata mbaku kalau aku bisa menidurkan bayi itu pertanda hatiku sedang tenang saat itu.

    fairuzdarin: Rasanya membahagiakan, ya? Ndang punya bayi sendiri kalo gitu.. :P

  2. hemmm, kalau begitu kapan2 aku ajarkan caranya menggendong bayi kelak ren. Dengan jumlah adikku yang hampir selusin itu, bukan hal baru bagiku menggendong, menceboki, mengajak bermain atau menidurkan bayi.

    It’s easy and fun for me. :D :P

    fairuzdarin: Kalo les privat mengurus bayi, tarif per jamnya berapa, Ipin? :P

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge