Gadis Pelari

Gadis Pelari

Masih agak kaget nih, baru saja aku menonton sebuah sinetron lepas di TransTV. Judulnya Gadis Pelari. Aku sungguh terkejut, ternyata masih ada sinetron Indonesia yang membuatku menangis tergugu di depan televisi! Eits, Gadis Pelari bukan seperti sinetron yang biasa, lho. Ini lain. Sungguh.

Tidak ada KDRT di sini. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada mendramatisasi penderitaan seorang wanita miskin. Ya memang ada wanita miskin yang menderita sih, tapi tidak didramatisir, kok. Kisahnya mengalir lancar, akting para pemainnya cukup menawan, apalagi yang berperan menjadi Dina. Uhhh, siapa sih nama aslinya??? Aktingnya aku acungi dua jempol!!! (pengennya sih tiga jempol, tapi masa mau aku acungi jempol kaki? hiii… )

Fokus cerita bukan pada percintaan lelaki dan perempuan yang selama ini biasa ditonjolkan di hampir semua sinetron Indonesia. Ini berkisah tentang persahabatan dan keluarga. Aku terkesan. Cerita yang lain daripada yang lain. Meski ada beberapa bagian yang kurang masuk akal, tapi masih bisa kumaafkan, kok.

Ini tentang Dina dan Sandra, dua orang yang bersahabat dan sama-sama atlet lari di sekolahnya. Sedikit beda nasib, Dina paling jago lari di sekolah, tapi berasal dari keluarga kurang mampu, sedangkan Sandra kemampuan berlarinya biasa saja, tapi berasal dari keluarga berkecukupan.

Mereka saling berkorban satu sama lain demi sebuah persahabatan. Dina berkorban demi Sandra, yang mengakibatkan dia tidak bisa berlari lagi. Sandra berkorban demi Dina, menemani Dina yang depresi berat karena ibunya meninggal dunia, serta berusaha sekuat tenaga untuk menggantikan posisi Dina sebagai pelari terbaik di sekolahnya, menyaingi kemampuan Ivon, pesaing terdekat Dina yang berkarakter jahat.

Ini juga tentang Dina dan Ibu. Ibu yang sakit, tapi terlambat diobati. Ketika akhirnya Ibu dibawa ke rumah sakit, semua sudah terlambat.
Kisah seorang anak yang sendirian berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan menyembuhkan ibunya. Kisah seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya. Adegan tiap adegan yang mengisahkan mereka sangat menyentuh. Hiks. Jadi kangen ibuku…

Sinetron ini juga penuh pesan moral. Layak ditonton oleh semua orang, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Banyak hal menarik yang aku dapat setelah selesai menonton. Hal menarik yang utama adalah bahwasanya ternyata masih ada sinetron Indonesia yang bagus! Ini sangat menarik, bukan? Hehehe…

Dialog-dialog yang indah dan menyentuh juga muncul di sana-sini…

“Motivasi adalah kunci keberhasilan,” kata Pak Karlo kepada Sandra yang putus asa karena tidak juga berhasil meningkatkan kecepatan berlarinya.
Ya, kita mencapai suatu keberhasilan karena ada motivasi yang kuat di balik itu. Motivasi Sandra berlari adalah Dina. Sahabatnya itu sudah banyak berkorban demi dia, dan dia tidak ingin menyia-nyiakan pengorbanan itu begitu saja.

“Berlarilah untuk orang yang kau sayangi, bukan karena dendam, masalah keluarga, atau pelarian,” kata Sandra, merujuk pada pengalamannya pribadi.
Melakukan sesuatu karena hal buruk, semisal dendam atau sekadar pelarian, tidak akan membawa kebaikan bagi kita. Kalaupun ada manfaat yang bisa diambil, itu semu belaka. Kunci dari perbuatan kita adalah dari niat. Dan semoga kita menjadi manusia-manusia yang meniatkan segala sesuatunya demi kebaikan, meniatkannya karena Allah Ta’ala, sebagai bentuk ibadah kita kepada-Nya.

Hee… dan masih banyak hal menarik lainnya. Menarik, setidaknya jika dibandingkan dengan sinetron lain yang hanya mengajarkan bagaimana cara mencaci maki, menampar, berselingkuh, dan lain-lain… Terlalu banyak nanti jika kusebutkan satu per satu…

Kisah di sinetron ini mengajarkan kita bagaimana cara menyayangi orang-orang terdekat kita, bagaimana untuk tetap semangat, optimis, pantang menyerah, dan terus berjuang.

Mari semangat untuk mencapai tujuan kita! Jia you!

Semoga ulasanku tentang Gadis Pelari tidak berlebihan. Agar percaya, lebih baik sih tonton langsung, minta TransTV memutarnya lagi. Hehehe… (kok aku jadi kayak ngiklan gini, sih??)

BTW, ini sinetron lepas apa film, ya? Duh…

===

*tulisan ini pernah diposting di blogku yang lain pada 30 April 2009

6 Responses »

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge