Makna dan Kata

Makna dan Kata

Teringat pelajaran bahasa Jawa di SD, kata “guru” berasal dari gabungan dua kata: digugu dan ditiru. Dulu aku bertanya-tanya, apakah memang guru itu berasal dari dua kata itu. Jika memang demikian, berarti makna yang membentuk kata, karena “digugu dan ditiru” adalah makna, dan mereka membentuk “guru”.

Tapi, semakin lama kupikir, semakin aku yakin bahwa kata “guru”lah yang mencipta makna “digugu dan ditiru”. Karena guru biasanya dijadikan teladan, alias harus “digugu” (diperhatikan) dan ditiru, meski tidak semua guru dapat menjadi teladan, dan ini berarti bahwa ada semacam pemaksaan dalam pemaknaan kata “guru” dalam pelajaran bahasa Jawaku itu.

Sebuah kata dapat menciptakan maknanya sendiri, dan seringkali maknanya berbeda untuk tiap-tiap orang. Kata melahirkan makna. Makna satu kata bisa terlahir berbeda-beda, tergantung apa-apa yang terkait dengan proses kelahirannya. Dan makna kata tak bisa dipaksakan. Sebagai contoh, jika kusebut kata tomat, bagiku ia bermakna sebagai makanan menggiurkan, lezat, sehat, bervitamin, menyenangkan, penuh kenangan. Tapi, sepertinya lain bagi kakakku, di dalam kepalanya, tomat bermakna: makanan biasa saja, tidak lezat, tapi memang sehat dan bervitamin. (betul begitu kan, Mas?)

Dan aku tidak bisa memaksa kakakku berpikir sepertiku.

Tegar. Nah, kata yang satu ini bermakna sangat istimewa bagi seorang Reni. Tapi, belum tentu bagi yang lain. Dan aku tidak bisa memaksa orang lain untuk mengistimewakan “tegar”.

Sebenarnya, “tegar” itu kata favorit Ibu. Gara-gara sejak beberapa tahun yang lalu Ibu sering menyampaikan pesan atau nasihat yang mengandung kata “tegar”, akhirnya lama-lama “tegar” mengubah maknanya dari yang tadinya derajat keistimewaannya setara dengan tabah, sabar, dan sebagainya, menjadi lebih istimewa dari mereka. Makna kata itu terlahir menjadi spesial karena dia bersentuhan dengan cinta Ibu.

Alkisah, beberapa tahun yang lampau, Reni muda merantau ke Jakarta untuk meneruskan pendidikannya. Dia ingin bersekolah yang tinggiii sekali agar bisa membantu Ibu… tapi bagaimana mungkin, membaca saja dia sulit… agar cita-citanya untuk menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa dapat tercapai. Cita-cita yang sangat mulia, bukan? (yup, mulia, tapi standar banget)

Tapi, sayangnya, perjalanan awal menggapai cita-cita itu agak terseok-seok berhubung Reni muda lumayan lemah dan cengeng. Jatuh sedikit menangis, kesandung sedikit mewek. Ya, begitulah Reni.

Mengenang hari-hari pertamaku di Jakarta sebagai mahasiswa, oh memang sungguh menyedihkan sekaligus mengharukan sekaligus menggelikan. Aku menjadi anak yang teramat sangat cengeng. Mudah menangis, tidak saja karena teringat Ibu atau ingin pulang, tapi karena hal lain yang aku pun tak mengerti mengapa aku harus menangis. Mendengar lagu sendu, aku menangis. Melihat baju daster, aku menangis. Membaca buku, aku menangis. Dinasihati kakakku, aku menangis. Ah, pokoknya banyak hal yang membuatku menangis.

Mendengar kabar bahwa aku sering menangis di Jakarta, Ibu jadi sering sekali menelepon atau mengirim sms ke ponselku. Dan, hampir selalu ada kata “tegar” di setiap telepon atau smsnya. Ibu suka sekali dengan “tegar”. Entah ada hubungan apa antara Ibu dengan Rossa dan Melly Goeslaw.

“Reni harus tegar…”

“Tegar, Ren. Tegar.”

“Tegaarr..!”

“Tegar ya, Ren. Ibu nang kene ya rapapa ko, deneng Reni mikiri temen?”

“TEGAR”

Setiap Ibu menelepon, biasanya aku langsung menangis, dan tak bisa berkata-kata, selain, “Pengen pulang…” atau, “Pengen bali…”

Tidak tahu apa yang terjadi pada diriku saat itu. Rasanya sedih berpisah dengan Ibu. Pokoknya sedih. Sediiihhh. Atau mungkin karena aku anak bungsu dan sebelumnya tidak pernah berpisah untuk jangka waktu yang cukup lama? Mungkin, sih.

“Tegar” seperti mantra bagiku. Saat kesedihan membuncah di dalam hati, dan air mata sudah ingin menerobos keluar dari pelupuk mata, aku langsung menggemakan kata itu di kepalaku. Mantra yang cukup berkhasiat sebenarnya, tapi kadang-kadang tidak berkhasiat sama sekali sewaktu sedang benar-benar kubutuhkan. Aku ingat betul salah satu hari dimana mantra itu tidak memamerkan khasiatnya: hari daftar ulangku menjadi mahasiswa baru.

Pagi-pagi, aku berangkat dari rumah kakakku menuju calon kampusku. Selama perjalanan, kakakku memutar berbagai macam jenis lagu, setiap kali lagu sendu diputar, aku berusaha tidak mendengarkannya, dan menguat-nguatkan hatiku agar tidak sedih. Kuucap mantra itu berulang kali. Lumayan berhasil. Tapi, ada sebuah lagu yang tak mempan oleh mantra: “Sepasang Bayangan”. Ada yang tahu lagu itu? Ada yang ingat? Tidak terlalu menyedihkan, kan? Tapi, karena dia, aku tidak tahan untuk tidak menangis.

(“Sepasang Bayangan”, akan selalu kuingat dirimu. Karenamu, aku menangis lama, menjadikan mataku agak sembab, padahal aku mau mengikuti proses daftar ulang alias bertemu dengan orang banyak. Huh. )

Sampai di kampus, aku was-was memperhatikan sekitar, takut bertemu dengan hal-hal yang menyedihkan atau mengharukan. Namun, kampus ramai, banyak orang berseliweran, mereka bercanda tawa, sehingga aku merasa baik-baik saja. Beberapa tahapan proses daftar ulang aku lewati dengan lancar. Hingga, tibalah di tahap akhir.

Aku memasuki sebuah ruang kelas yang berfungsi sebagai ruang bintal (bina mental). Ada tiga mahasiswi di dalam, bertugas sebagai panitia daftar ulang. Melihat mereka yang berwajah teduh dan keibuan, aku mulai merasa was-was, takut menangis karena teringat Ibu.

Salah satu panitia duduk di dekat pintu masuk kelas, menyambut kedatanganku. Dia berkata, bla bla bla… Lalu, dia menyuruh aku menemui salah satu temannya di ruangan itu.

Aku duduk di depan kakak mahasiswi yang satu itu. Dia mulai mengajakku mengobrol. Bla bla bla… Dia bertanya ini itu, berusaha untuk menguak sedikit hal pribadi tentangku…

Sampai, tibalah aku pada sebuah pertanyaan “menyedihkan”. Dia menanyakan pendapatku tentang musibah yang saat itu baru saja menimpa saudara-saudara di Palestina dan Maluku. Saat itu, media tengah gencar memberitakan peristiwa di daerah itu. Peristiwa buruk dan menyedihkan tentunya. Menanyakan sesuatu yang menyedihkan kepadaku sama saja memaksaku untuk menangis.

Bayangan rumah-rumah hancur, anak yang ditinggalkan orang tuanya, orang tua yang kehilangan anaknya, derita dimana-mana, langsung muncul di depan mata. Aku berusaha untuk menahan tangis. Tapi, sang kakak cantik malah terus menambahkan pertanyaan “meyedihkan”.

Lalu, bayangan Ibu ikut muncul, rumah kecilku tak mau ketinggalan. Aku langsung ingin pulang; tak tahan untuk menangis. Bobol sudah pertahananku. “Tegar” kurang berkhasiat. Dan sedihnya, bobol di depan orang lain. Sedihnya lagi, kakak cantik mengira aku menangis karena empatiku yang tinggi terhadap saudara-saudaraku tadi. Padahal… padahal…

Aku menangis dan sulit berkata-kata. Hampir saja yang kuucap, “Pengen pulang…”. Tapi, kutahan kuat-kuat keinginan itu. Kakak tadi sedikit terkejut melihatku menangis. Dia sepertinya terpesona dengan air mataku. Duh, aku semakin merasa bersalah. Ingin aku jelaskan bahwa suasana hatiku sedang buruk, oleh karenanya aku teramat sangat mudah menangis… Tapi, waktu itu aku bingung, bagaimana menjelaskannya, ya? Yang terjadi, aku tetap menjawab pertanyaannya dengan terbata-bata diiringi derai tangisku. Dan si kakak justru menyampaikan kekagumannya atas air mataku itu. Tidak. Tidaaak, kau salah, kakak!

Keluar dari ruangan itu, hatiku dipenuhi rasa bersalah. Untungnya, kondisiku yang seperti itu hanya hitungan hari. Aku berangsur-angsur kembali ke Reni normal yang tidak terlalu cengeng. Mantra “tegar” ikut andil dalam proses penyembuhanku. Namun, rasa bersalah karena secara tidak sengaja telah “menipu” sang kakak masih tetap ada. Sungguh aku malu dengan diriku yang cengeng dan lemah. Hanya sebentar aku dibuat berpisah dengan Ibu, tapi kesedihanku sudah sangat berlebihan. Masih amat sangat banyak orang yang nasibnya jauuuh lebih tidak beruntung dariku, tapi mereka tetap kuat dan tegar.

Melihat berita-berita di televisi beberapa minggu ini, aku sering sekali menemukan kesedihan, penderitaan, tangis, nestapa, perjuangan, tabah, tegar, perpisahan, kematian, kehancuran, kekuatan…

Nama Palestina membentuk banyak makna.

Musibah, rusak, hancur, runtuh, gempa, ketakutan, trauma, gelap, korban… …

Nama Manokwari juga membentuk banyak makna.

Kata memang bisa melahirkan makna, tapi kata juga bisa kehilangan makna. Dan kehilangan tidak selalu buruk. Bukankah melepaskan makna “tangis, derita, trauma, musibah” dari sebuah kata adalah sesuatu yang cukup baik?

Dan, kehilangan juga tak selalu baik. Bukankah melepaskan makna “tegar, tabah, perjuangan” dari sebuah kata adalah sesuatu yang buruk?

17 Responses »

  1. Assalamu’alaikum
    salam kenal
    Pertamax nih

    fairuzdarin: Wa’alaykumsala warrahmatullah wabarakatuh.
    Salam kenal.
    Senang sekali bisa bertemu dengan teman lain dari Yogya.. :)

    Premium udah nggak disubsidi, lho… :)

  2. Reni, tegarlah. Jangan cengeng gitu. Btw TEGAR itu nama adikku loh. Duh, jadi “pengin pulang”.

    fairuzdarin: Di antara kita berdua, siapa yang lebih cengeng, ha?
    Aku tahu anak kecil imut di blog, FS, dan MP Ipin itu bernama Tegar. Cepat, serahkan dia padaku! Cepat!!!

  3. jadi ingat mas akecil dulu bagaiman diri ini selalu erbawa kemanapun orang tua dinas yang notabene adalah seorang guru sd.

    ketika saya mendapat masa depan bukan menjadi seorang guru. rasa rindu akan indahnya menjadi guru yang saya lihatd ari kedua orang tua saya kembali menggelayuti.

    kadang dalam sendiri sempat saya berfikir. kenapa saya tidak menjadi seorang guru saja.

    fairuzdarin: Mungkin masih ada waktu untuk mewujudkannya, Mas, insya Allah, itu jika Mas pengen bener-bener mewujudkannya. Tapi, menerima apa yang ada sekarang dan menjalankan dengan sebaik-baiknya juga langkah yang bagus juga. :)
    Maaf ya, ga bisa ngasih balasan komentar yang bagus.
    Eh, btw, kerinduan itu adalah sesuatu yang indah, kan? Iya, ga?

  4. Aku pengen memprotes tulisanku sendiri… (tapi ga kolu)
    :roll:

    Eh, btw, gimana dengan kata yang benar-benar kehilangan maknanya, ya? Dia menjadi kata tanpa makna, tak memiliki arti apa-apa. Mungkin dia akan sedih, lalu berkata, “Daripada tidak berarti apa-apa lagi, lebih baik aku lenyap saja dari muka bumi ini…”

    Seperti halnya manusia, kata juga hidup. Jadi, kata juga bisa mati, dong.

    Dan lagi-lagi seperti halnya manusia, sebaik-baik kata adalah kata yang bermanfaat bagi kata lain. :P

  5. duh jadi ikut2an sedih juga..jadi teringat pertma kali ke jogja..hikss..ibu kamu dimana..dengan siapa..dan lagi berbuat apa..eitss..

    fairuzdarin: Duh, bukan bermaksud mengajak bersedih-sedih ria, maaf ya kalo bikin sedih.
    Pertama kali ke Jogja gitu juga, ya? Mungkin kebanyakan anak emang gitu pas pisah sama ortunya.
    Hemmm, dulu aku pengen kuliah di Jogja, lho. Aku membayangkan kuliah di sana akan sangat menyenangkan. Menyenangkan ga di sono?

  6. Kalo kata kunciku “senyum”
    Dan itu melekat dalam diriku entah sejak kapan(emang penting Bud ?)

    fairuzdarin: Wuiiihhh… Pwenting byanget, Bud. Pwentung byanget.
    Pasti melekat sejak lahir, sebab senyum itu juga ada bawaan gen, ada bakatnya.
    :)

  7. Jd kangen ma kaka saiia,, dya slalu ngasi segala,na bwt fandy,, tp fandy blom sempt ngasi ap2 bwt dya,,

    fairuzdarin: Mumpung kita masih diberi kesempatan untuk membuktikan cinta kita kepada orang-orang tersayang, mari kita buktikan dengan membuat mereka bahagia… Yuk… :)

  8. bidadari kecil…,jangan nagis yah. tak doain, apa yang jadi pengharapan bidadari kecil akan tercapai. amin.

    fairuzdarin: Terima kasih Kak Uzi atas doanya. Aku udah ga nangis lagi kok sekarang. Sekarang aku adalah seorang gadis yang tegar. (weks, masa sih, Ren?)
    Semoga Allah mengabulkan doa Kak Uzi. Amiiin.

  9. Dunia indah karena kasih sayang menghiasinya

    Dan kau memaknai kata tak sekedarnya

    sahabatku
    semangat!

    fairuzdarin: Selalu bersemangat ya Mas yang satu ini. :)
    Warna cinta dan kasih sayang memang indah, Mas.

    Semangat!

  10. Salam
    Setiap kata memang bermakna baik itu harfiah maupun makna istilah dan merupakan proses panjang dalam pembentukannya, sangat tergantung dr banyak hal kan say…
    memaknai hidup tak hanya memaknai kata bukan gitu say :)
    *sotoy ya…

    fairuzdarin: Gitu bukan ya, Mba? :roll:
    Kata itu bisa melahirkan makna. Dan makna tak bisa dipaksakan. Dia bebas membentuk dirinya. Dan perjalanan hidup seseorang mempengaruhi makna hidupnya. Gitu kali ya…
    *aku sotoy ni, Mba…

  11. setiap kata terucap memiliki makna… bahkan diam pun mengandung makna. dan makna kata tegar tak kan lebih berat bagi yang belum pernah merasakannya, tak kan lebih sulit bagi yang belum pernah mengujinya.

    fairuzdarin: Must, engkau benar… Diam pun mengandung makna.
    Seperti diamnya Rasulullah yang juga mengandung makna… :)

  12. Ntah kenapa ada rasanya berbeda tatkala menyebutkan kata “perempuan” dan “wanita”.

    Ada yang sama dari kita. Kamu Reni, saya Rina.
    Sama-sama cengeng dan banyak kata guru.
    *halah maksa*

    fairuzdarin: Hehe… Ternyata Mba Rina ini cengeng, to? Aku pikir selama ini Mba itu orangnya cuek, rada tomboy juga, dan ga gitu doyan nangis. :D
    Nama kita emang mirip, Mba… *ikutan maksa*

  13. salam jumpa kembali aja, deh mbak ren..
    soalnya awal tahun ini, mungkin saya akan jarang2 buka internet, karena padatnya kerjaan di luar kota.

    fairuzdarin: Sibuk banget to, Mas? Wah, terima kasih ya masih sempat berkunjung ke sini. Semoga sukses dengan pekerjaannya, Mas Adi. :)

  14. makna dan kata…
    Suatu keLuarga yang harus tercipta dengan rukun supaya tidak terjadi kesalahpahaman… :-)

    Salam kenaL…. :mrgreen:

    fairuzdarin: Salam kenal. :)
    Terima kasih sudah berkunjung ke sini.
    Biasanya yang salah paham itu manusia yang berusaha memaknai makna kata yang dipahami manusia lainnya. *mbulet ngomongnya*
    Iya kan, ya?

  15. setiap orang bebas menginterpretasikan sebuah kata dengan makna yang mereka inginkan. pun kata Guru. orang jawa menngartikannya menjadi, “digugu dan ditiru”. karena memang demikianlah seharusnya seorang guru, menjadi teladan bagi para muridnya. walaupun kenyataan sekarang banyak yang berkata lain.

    namun, palestina, satu makna,
    “Tanah Suci yang menyimpan berjuta sejarah dan hikmah”

    fairuzdarin: :)

  16. Bahkan bukan kata saja yang bisa kehilangan makna Ren.. Orang yang mengucapkan kata itu juga bisa kehilangan makna, jika ternyata kenyataan yang dilakukannya jauh dari apa yang dikatakannya.

    *Oleh2 Kampanye setiap pemilu*

    Selamat Malam Ren.. apa kabar? :)

    fairuzdarin: Selamat malam, Mas Nug. Kabar baik, alhamdulillah. :)
    Mas Nug benar, sebagian besar dari mereka terlalu banyak bicara tapi tidak banyak berbuat. Hem, aku tak ingin menjadi orang yang seperti mereka, Mas.

  17. aslmlkm, w meang jau dari ibu…, w selalu kangen kalau jauh dari ibu…, w bingung koq ada yang bisa tahan jauh dari ibunya..

    fairuzdarin: Mungkin karena sudah memiliki banyak kesibukan, makanya ada yang bisa tahan jauh dari ibunya… :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge