Terantusias di Kelas

Supel, pintar, cantik, baik hati, berambut pendek belah pinggir dengan poni menjuntai.

Lady Di?

 

ARGENTINA – NOVEMBER 24: Princess Diana In Argentina (Photo by Tim Graham/Getty Images)

Bukan putri cantik dari negeri seberang itu, melainkan guruku. Guru bahasa Indonesiaku, Ibu Yusti Prihati. Sekilas, memang pembawaannya mengingatkanku pada putri kesayangan sejuta umat: Lady Diana. Potongan rambutnya terutama. Model rambut Lady Di sempat booming pada tahun 90-an, tapi aku belum sempat menanyakan kepada Bu Yusti, apakah rambutnya terinspirasi dari Lady Di?

Kriteria guru favorit hampir ada seluruhnya pada Bu Yusti. Tadi sudah disebutkan bukan bahwa ia supel, pintar, cantik, dan baik?

Apalagi? Humoris, iya. Dekat dengan siswa, iya. Komunikatif, iya. Dengar-dengar kabar burung, Bu Yusti juga pernah mendapat predikat guru terbaik tingkat provinsi. Memang paket lengkap, pantas saja yang terpukau tak cuma para muridnya.

Akan tetapi, ada satu yang paling berkesan darinya. Yang sangat mencerminkan dirinya.

Antusiasme.

Bu Yusti ini selalu antusias. Malah terantusias di kelas. Kalah itu puluhan anak yang duduk mendengarkan di kursi masing-masing.

Entah sedang sehat atau sakit, entah sedang di hari belajar biasa atau bulan Ramadan, jam mengajar pertama atau terakhir, Bu Yusti selalu tampak antusias mengajar. Semangatnya terpancar dari sinar matanya. Setiap pertanyaan sederhana dari anak didiknya tak pernah dijawab asal sepintas lalu, tapi dikupas sedalam-dalam. Senyumnya tak ketinggalan, humor-humornya selalu segar tanpa meninggalkan penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Bahasa Indonesia, mata pelajaran yang terasa membosankan bertahun-tahun, menjelma menjadi yang paling ditunggu tiap minggunya. Oke, memang aku dulu cukup suka huruf dan kata. Terkadang mengarang cerita. Tapi dari Bu Yusti, aku tersadar bahwa banyak yang bisa dieksplorasi dari bahasa persatuan junjungan kita semua itu. Banyak sekali hal menarik yang bisa diperbincangkan dari bahasa Indonesia.

Tidak semua guru bisa lakukan itu pada mata pelajaran yang ia bawa.

Namun Bu Yusti menjalankannya seperti tanpa upaya. Tentu tidak begitu, pasti banyak yang disiapkan. Kita para muridnya saja yang tak tahu. Atau bisa jadi, mungkin ada passion yang kuat di sana.

Bu Yusti guru favoritku saat SMA. Dan Bu Yusti akan tetap jadi guru favorit sepanjang masa.

Tak cuma lantaran kepiawaiannya tatkala mengajar, tetapi juga karena ayah dari anakku pun mengidolakannya. Kami tak pernah sekelas di SMA, tak jua sekampus, tetapi selepas lulus SMA sama-sama suka mempermasalahkan titik dan koma. Setelah menikah, baru tahu mengapa bisa begitu. Oh, karena mata pelajaran bahasa Indonesia rupanya.