Bersama Kita Bisa

Bersama Kita Bisa

Jaman masih berangkat pulang kerja Cililitan-Wahidin naik motor, saat sedang melaju sendirian di tengah jalanan Jakarta, adalah saatku paling nyaman untuk “bicara dengan diri sendiri”. Saat melaju di atas motor itu… aku merasa bisa berpikir dengan jernih, mengurai apa saja sebenarnya yang aku inginkan, atau justru apa saja yang kusesali. Tidak jarang, tekad-tekad tertentu terkait kehidupanku dibuat ketika itu. :)

Kemarin Jumat untuk pertama kalinya aku naik motor sendiri dari rumah ke kampus. Biasanya kalau aku ada urusan di kampus, Mas Ipin selalu antar jemput. Menempuh perjalanan rumah-kampus sendirian lebih dari 25 km memberiku kesempatan untuk kembali menikmati masa-masa “bicara dengan diri sendiri”. Pikiranku lebih banyak berkutat pada rumah dan persiapan kerja yang memang menjadi sumber kegalauanku beberapa minggu terakhir. Sejak pindahan ke sini, aku belum benar-benar bisa betah. Aku masih sering merasa… I don’t belong here. Di sini tetangga-tetangga baik dan menyenangkan kok. Rumah kami juga dekat dengan berbagai tempat untuk memenuhi kebutuhan kami, intinya hidup masih normal-normal saja seperti sebelumnya meski kini judulnya di pelosok.

Tapi ada yang mengganjal. Rumah kami jauh dari sanak saudara. Jauh dari kantorku juga. Saat masih belum hamil dan belum pindahan, aku beberapa kali mencoba naik bus dari Karawaci ke kantor. Iya, ada macetnya, tapi cuma sekali naik langsung turun di depan kantor. Pernah juga mencoba naik CL Serpong-Tanah Abang. Dari rumah ke stasiun Rawabuntu BSD memang jauh, tapi Mas Ipin toh siap antar jemput tiap hari. Saat itu sih semua terasa ok-ok saja. Aku pede bisa menempuh perjalanan itu nanti saat bekerja.

Menjadi beda cerita ketika aku sudah pindahan. Pindah ke sini di trimester pertama kehamilan dimana banyak acara mual muntah. Menempuh perjalanan rumah-kampus hampir selalu mual, baik diantar naik mobil maupun naik motor. Apalagi kalau naik mobil, muntahnya sampai njungkel-njungkel. Bagaimana ini kalau mau ke kantor besok? Pilihan naik bus langsung kucoret dari rencana. Lalu, didukung perasaan “I don’t belong here” yang sudah kurasakan sejak awal, aku mengajukan sebuah permintaan ke suami. Sementara aku hamil, tempat tinggal jangan di sini dulu, mari kita pindah ke suatu tempat yang lebih dekat sanak saudara dan kantorku. Weekend boleh lah di rumah sendiri, tapi Senin-Jumat mari kita mengontrak.

Suamiku mulai mencari-cari tempat baru, memenuhi permintaan istrinya yang rada nyleneh. Memang kurang pantas sih dilihat tetangga, baru pindahan kok mau pergi lagi. Tapi aku juga harus memikirkan bayi dan diriku sendiri to? Kebetulan, rumah kontrakan Bapak mertua di Sunter mau kosong karena mulai bulan Juli Bapak menutup usaha dagangnya di Jakarta, padahal kontrakan itu sudah dibayar sampai bulan Februari tahun depan. Di sekitar kontrakan Bapak, ada keluarga Rina dan teman-teman suami dari Alian. Pasti suasananya tidak lagi terasa “I don’t belong here” seperti di sini. Aku akan tinggal dekat dengan teman, sanak saudara, dan kantor. Terdengar sempurna, kecuali untuk suami yang harus menempuh perjalanan Sunter-Gading Serpong. Tapi dia siap menjalaninya.

Satu mingguan ini aku sudah tidak mual-mual lagi. Selamat datang, trimester kedua. Kondisi sekarang memungkinkanku untuk menempuh perjalanan rumah-kantor seperti rencana awal. Karena sudah masuk trimester kedua ini juga aku berani naik motor sendiri ke kampus. Lalu, dari acara “bicara dengan diri sendiri” kemarin, aku memutuskan sesuatu. Aku sudah memikirkannya beberapa hari terakhir, tapi belum memutuskan apa-apa.

Di atas motor itu, aku bertekad untuk tetap tinggal di rumah ini. :)

Kemarin-kemarin aku adalah si cengeng. Aku tahu sumber kegalauanku. Di sini aku merasa begitu kesepian dan jauh dari keluarga. Lingkungan perumahan masih sepi, belum ada seperempat rumah yang ditinggali. Sebagai pengangguran yang kerjaannya hanya ongkang-ongkang kaki di rumah, aku sering melihat ada tetangga yang baru pindahan diantar ramai-ramai oleh keluarganya, atau yang sudah pindahan sedang dijenguk oleh keluarganya. Untuk sebuah alasan, aku menangis iri. Kami pindah ke sini tanpa ada satupun anggota keluarga yang mengantar. Aku memiliki banyak keluarga di Jabodetabek, tapi hingga kini juga belum ada satupun yang mau main ke sini. Alasan mereka, rumahku jauh. Ini sebabnya di jam istirahat siang aku sering memaksa suami pulang untuk makan siang di rumah. Setiap ada suami di dekatku, aku merasa rasa sepi itu menguap. Ini juga sebabnya aku bersemangat untuk tinggal di Sunter, karena di sana aku bisa dekat dengan keluarga.

Sejak pindahan, aku sering bilang ke suami kalau aku rindu Mba Yayut dan Ibu. Dulu Mba Yayut adalah seksi rempong keluarga, paling ribut kalau ada anggota keluarga yang mau ada acara, termasuk urusan pindahan rumah. Kalau tidak mengantar di hari pindahan, pasti tak lama setelah itu langsung datang menjenguk. Dan Ibu, kalau tidak sakit, pasti Ibu sudah datang menengokku di rumah ini. Mereka berdua adalah sosok yang paling peduli denganku. Kini Mba Yayut sudah tidak ada. Ibu juga sakit, kondisinya masih belum stabil. Betapa banyak hal-hal yang sudah berubah di sekitarku. Biasanya suami menjawab dengan mengatakan bahwa sekarang sudah ada dia, atau menjawab hidup orang itu makin lama makin mengerucut. Namun, kemarin dia menunjukkan sebuah tulisan.

Sebuah kado bagi yang telah menikah.
Semoga mensyukuri kehidupan pernikahan
————————————————

Menjelang istirahat suatu kursus pelatihan, sang pengajar mengajak para peserta untuk melakukan suatu permainan. “Siapakah orang yang paling penting dalam hidup Anda?”

Pengajar meminta bantuan seorang peserta maju ke depan kelas. “Silakan tulis 20 nama yang paling dekat dengan kehidupan Anda saat ini.”

Peserta perempuan itu pun menuliskan 20 nama di papan tulis. Ada nama tetangga, teman sekantor, saudara, orang-orang terkasih dan lainnya.

Kemudian pengajar itu menyilakan memilih, dengan mencoret satu nama yang dianggap tidak penting. Lalu siswi itu mencoret satu nama, tetangganya. Selanjutnya pengajar itu menyilakan lagi siswinya mencoret satu nama yang tersisa, dan siswi itu pun melakukannya, sekarang ia mencoret nama teman sekantornya. Begitu seterusnya.

Sampai pada akhirnya di papan tulis hanya tersisa 3 nama. Nama orang tuanya, nama suami serta nama anaknya.

Di dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi. Semua peserta pelatihan mengalihkan pandangan ke pengajar. Menebak-nebak apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh pengajar itu. Ataukah, selesai sudah tak ada lagi yang harus dipilih.

Namun di keheningan kelas sang pengajar berkata, “Coret satu lagi!”

Dengan perlahan dan agak ragu siswi itu mengambil spidol dan mencoret satu nama.

Nama orang tuanya.

“Silakan coret satu lagi!”

Tampak siswi itu larut dalam permainan ini. Ia gelisah. Ia mengangkat spidolnya tinggi-tinggi dan mencoret nama yang teratas dia tulis sebelumnya.

Nama anaknya.

Seketika itupun pecah isak tangis di kelas.

Setelah suasana sedikit tenang, pengajar itu lalu bertanya, “Orang terkasih Anda bukan orang tua dan anak Anda? Orang tua yang melahirkan dan membesarkan Anda. Anda yang melahirkan anak. Sedang suami bisa dicari lagi. Mengapa Anda memilih sosok suami sebagai orang yang paling penting dan sulit dipisahkan?”

Semua mata tertuju pada siswi yang masih berada di depan kelas. Menunggu apa yang hendak dikatakannya.

“Waktu akan berlalu, orang tua akan pergi meninggalkan saya. Anakpun demikian. Jika ia telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya juga. Yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”

……………………………………

Kehidupan itu bagaikan bawang bombay.
Ketika dikupas selapis demi selapis, akan habis.

Dan adakalanya kita dibuat menangis.

Sumber: https://www.facebook.com/note.php?note_id=136980902964&comments

Sedikit banyak, tulisan itu ada benarnya. :(

Tekad sudah bulat. Kecengengan sudah mulai berkurang.

Aku dan suami akan bersama-sama menghadapi perjalanan rumah-kantor. Dan ohya, juga dengan junior. Bersama kita bisa. Aku tahu suamiku sudah banyak merasa bersalah karena menempatkanku dan junior di rumah yang jauh ini. Dan aku tidak mau menambah rasa bersalah itu dengan kecengengan yang tidak perlu. Rumah ini adalah hasil jerih payah kami, bentuk kemandirian kami. Nanti setelah junior lahir, mungkin bisa saja ada perubahan rencana. Tapi aku akan berusaha menyingkirkan kecengengan dari daftar penyebab perubahan rencana.

Jadi, selamat datang kembali wahai pekerjaanku. Aku, Mas Ipin, dan junior akan bersama-sama menghadapimu.

Ditulis dengan iringan lagu Everybody’s Changing-nya Keane.

♫♫ Oh
Everybody’s changing
And I don’t feel the same ♫♫

2 Responses »

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge