keseharian

Jika Saya Kangen Bapak

Mungkin karena sedang PMS, sudah beberapa hari ini saya begitu gampang mewek. Mendengarkan lagu cinta, mewek. Baca tulisan mengharukan di beberapa blog, mewek. Bahkan, menunggu suami pulang kerja pun mewek. Sungguh ter-la-lu.

Dan yang jarang sekali terjadi pun terjadi: mewek karena kangen Bapak.

Entah ini namanya kangen atau apa. Tiba-tiba ingin menangis sejadi-jadinya ketika terpikir Bapak. Bukan terkenang, karena saya tidak punya kenangan apa-apa. Hanya terpikir. Ada gambar-gambar di dalam ingatan yang memperlihatkan Bapak sedang bermain-main dengan saya. Tapi saya ragu itu benar-benar merupakan kenangan. Mungkin itu hanya khayalan tentang kenangan yang menurut saya seharusnya ada dalam kepala ini. Entahlah.

Biar suami tidak menaruh banyak curiga, saya menangis sambil menonton video lagu Aerosmith yang I Don’t Want To Miss A Thing. Video yang saya ambil dari youtube itu berisi cuplikan film Armageddon. Tahu kan cerita filmnya? Tak jauh-jauh dari hubungan ayah dan anak perempuannya. Pas banget. :’)

Menjelang pernikahan saya bulan Oktober kemarin, untuk pertama kalinya saya merasa amat sangat membutuhkan keberadaan Bapak. Saya baru tahu bahwa Ibu tetaplah hanya seorang ibu. Sesuper apapun Ibu, ternyata Ibu memiliki saat-saat dimana ia tidak bisa merangkap sekaligus sebagai bapak. Kakak-kakak juga hanyalah kakak, mereka semua juga tidak bisa menggantikan peran Bapak. Saya butuh Bapak!

Itu hanya letupan perasaan sesaat. Kemudian, semuanya kembali normal. Saya merasa Ibu kembali menjalankan peran Bapak, demikian pula dengan kakak-kakak. Semuanya kembali di bawah kendali.

Setelah riuh acara pernikahan selesai, Ibu berkata kepada saya sambil tersenyum, “Katanya kamu pengen punya bapak, nah sekarang keinginanmu sudah terpenuhi. Kamu sekarang sudah punya bapak, yaitu bapak mertuamu. Bapak mertua sama dengan bapak.”

Tak keluar balasan barang sepatah kata pun dari mulut saya. Speechless.

Meski begitu, kerinduan kepada Bapak ternyata masih ada. Ya, masih ada dan akan terus ada. Kemarin sore akhirnya saya beranikan diri bertanya kepada Mas Ugo, “Dulu aku dan Bapak seperti apa? Apakah kami dekat?”

Mas Ugo menjawab singkat, “Aku ga inget.”

Bahkan Mas Ugo pun lupa. :’)

Sebenarnya pertanyaan serupa sudah pernah ditanyakan ke Ibu. Tapi saya haus dengan banyak jawaban. Ingin saya dengar sebanyak-banyaknya jawaban. Jawaban dari banyak sisi dan banyak orang. Semakin saya bertanya, semakin saya haus. Mengeruk jawaban dari ingatan sendiri tampaknya menjadi perbuatan yang sia-sia.

Maka, saya pun terpaksa berkubang dulu di sini, di genangan penasaran dan kehausan akan cerita tentang saya dan Bapak.

 

Bapak..
Seperti apakah dirimu?
Seperti apa rasanya jika kepalaku dibelai lembut oleh tanganmu?
Seperti apa rasanya jika dimarahi olehmu?

Bapak..
Aku suka matematika sepertimu.
Suamiku juga suka matematika sepertimu. :)

Bapak..
Aku sayang Bapak.
Semoga aku bisa menjadi anak yang baik untuk Bapak.

 

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge