keseharian

Para Wanita Itu Memang Keren

Dulu di kantor ada ibu-ibu yang keibuan dan perhatian padaku. Namanya Bu Mulyati. Panggilannya Bu Mul. Yang khas dari Bu Mul adalah suka bergaul dengan anak muda. Apalagi anak muda yang pemuda.

Awalnya aku takut kepada Bu Mul. Raut wajahnya terlihat galak dan tegas. Dandanannya juga seperti ibu-ibu sosialita. Pertama masuk kantor, aku merasa Bu Mul tidak terlalu suka padaku. Aku pikir Bu Mul hanya mudah dekat dengan orang yang pandai berdandan. Kalau seperti aku, yang suka baju berwarna polos, yang tidak suka mewarnai wajah, sepertinya Bu Mul tidak suka.

Tapi semakin lama aku mengenalnya, semakin aku merasa telah salah menilai. Bu Mul orangnya baik hati, perhatian, tulus, dan keibuan sekali. Menganggapku dan teman-teman sepantaranku seperti anaknya. Bu Mul tidak pernah menilai orang dari penampilannya. Ternyata selama ini, justru aku yang suka menilai orang dari penampilannya. Betapa dangkalnya pikiranku. Aku pikir, Bu Mul judes hanya gara-gara penampilannya seperti ibu-ibu pejabat. Konyol.

Bu Mul suka makan pare. Dan Bu Mul senang sekali saat tahu aku juga suka makan pare. Aku lupa, khasiat pare itu apa. Yang aku ingat, Bu Mul pernah berkata, “Reni nih hebat, anak muda tapi doyan pare. Bagus, bagus..”

Kalau aku memakai baju berbunga-bunga, atau kerudung berbunga-bunga, Bu Mul senang sekali. “Nah, gitu dong.. Kan jadi tambah cantik,” begitu katanya sambil tersenyum sumringah. Matanya berbinar-binar.

Setelah sekitar dua tahun bekerja bersamanya, Bu Mul mendapat promosi menjadi kepala subbagian di lain bagian. Akibatnya Bu Mul harus pindah ruangan, pindah lantai juga malah. Sedih.

Sosok yang biasa untuk tempat curhat sudah tidak ada di ruangan. Sosok yang biasa menasihati ini dan itu pergi ke lantai lain. :{

Akhirnya, kadang-kadang aku dan teman-teman yang menengok Bu Mul di ruangan barunya. Kadang Bu Mul juga telepon ke ruanganku atau ruangan kepala subbagianku, dan seringnya aku yang mengangkat teleponnya.

“Halo, ini Reni ya? Bapakmu mana, Ren?” begitu Bu Mul kalau menanyakan keberadaan kepala subbagianku, Pak Agus.

Kalau Pak Agus sedang tidak ada, kadang kami mengobrol beberapa lama.

Sebelum pindah, Bu Mul sering menasihatiku dan menguatkanku ketika beban pekerjaan yang kuterima sedang banyak, saat atasan memberikan seabrek pekerjaan yang harus dilembur, tatkala ada saja perintah ini itu mati satu tumbuh seribu yang bikin kepala pening. Dia juga sering mengingatkanku untuk menjaga kesehatan. Jangan suka ngoyo bekerja. Perhatian sekali. Dia adalah pengganti Ibu di kantor. Dia ibu-ibuan.

Lalu hari ini aku bertemu dengan Ibu Kos. Sosoknya juga keibuan dan perhatian. Ibu Kos mampir ke kontrakan untuk membahas sesuatu bersama anak kontrakannya. Oh, harusnya bukan Ibu Kos kusebutnya, melainkan Ibu Kontrakan. Tapi biar sajalah, sudah biasa yang pertama. Ibu Kos menanyakan kabar, ada masalah apa, menasihati agar tetap sabar, dan membantu mencari solusi. Ibu Kos menepuk-nepuk punggung, menularkan kekuatan, memancarkan kasih sayang. Seperti Bu Mul. Aku jadi teringat Bu Mul. Tapi Bu Mul sekarang sudah pensiun. Kalau ke kantor sudah tidak bisa bertemu lagi. Iya sih bisa sms atau telepon, tapi aku tidak biasa mengganggu Bu Mul dengan cara seperti itu.

Wanita itu mungkin memang punya sisi keibuan yang bisa ditunjukkannya kepada siapapun, tidak hanya pada anak kandungnya. Kalau Ibu, dia memang sangat perhatian padaku. Bermanja-manja padanya sudah biasa, meski kini aku telah tua dewasa. Ibu selalu menjadi ajang curhatku. Apapun masalahnya, ketika aku curhat ke Ibu, selalu ada solusi. Ibu akan berbuat sekuat tenaga untuk membantu menyelesaikan masalah. Ibu juga selalu memberi nasihat, menularkan kekuatan, memintaku untuk tetap tegar. Tapi, ternyata wanita selain ibu kita sendiri juga bisa begitu keibuan dan perhatian. Mereka juga siap membantu seandainya ada masalah, dengan gaya khasnya yang keibuan.

Entah kekuatan apa yang dimiliki oleh para wanita itu. Mereka seolah memiliki tenaga yang tiada habisnya untuk membantu orang-orang di sekitarnya, terutama para anak muda yang masih kurang makan garam kehidupan. Mereka bisa begitu diandalkan. Mereka begitu penyayang. Begitu perhatian.

 

Bisakah aku kelak seperti mereka? :{

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge