keseharian

Serial Twit @salimafillah

Seorang kawan di twitter menjadi pengikut akun @salimafillah alias Salim A. Fillah, yang dikenal sebagai penulis buku. Ada serial twit menarik dari sang penulis yang disinggung-singgung oleh teman saya semingguan lalu. Alhamdulillah, saya jadi tahu isi serial twit itu meski bukan pengikut akun twitternya. Akan disalin di sini untuk dokumentasi saya, dan siapa tahu juga bermanfaat bagi orang lain yang membacanya.

BTW, dari zaman DIII telah mendengar nama penulis ini. Pernah bertemu langsung juga di salah satu acara kampus. Kalau tidak salah, pernah membaca bukunya yang berjudul “Agar Bidadari Cemburu Padamu” dan “Gue Never Die“. Bukunya yang lain ada yang lebih terkenal sih: “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan“. Namun, diri ini selalu enggan untuk membacanya meski waktu itu bukunya sangat booming. Secara dulu belum ada keinginan untuk menikah dan enggan dipanas-panasi untuk segera menikah. :}

Ini dia serial twit ustadz Salim A. Fillah. Semoga bermanfaat. Sumber: @salimafillah. Tidak ada suntingan sama sekali.

  1. Secara umum, menyebut asma Allah & berdzikir kepadaNya ialah kebaikan tertuntunkan. Menyertakan Allah dalam tiap kejadian adalah niscaya.
  2. Dan tiap penyebutan nama Allah yang bermakna khusus tentu memiliki tempat sesuai tuntunan. Semisal; Istirja’ diucap saat kita bermusibah.
  3. Nah; bagaimana dengan ucapan “SubhanaLlah” & “MasyaaLlah”? Ada 2 yang mengikatnya; tuntunan Quran-Sunnah & kebiasaan dalam Bahasa Arab.
  4. Al Quran menuturkan; SubhanaLlah digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tak pantas. “Maha Suci Allah dari mempunyai anak, dari..
  5. ..apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dll.” Ayat-ayat berkomposisi ini sangatlah banyak. Juga, SubhanaLlah digunakan untuk..
  6. ..mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik (QS 34: 40-41), dihinakannya Allah tersebab kita (QS 12: 108) dll.
  7. Bukankah ada juga pe-Maha Suci-an Allah dalam hal menakjubkan? Uniknya, Al Quran menuturnya dengan kata ganti kedua (QS 3: 191), atau..
  8. ..kata ganti ketiga yang tak langsung menyebut asma Allah (QS 17: 1 dll). Sedangkan ia juga terpakai pada; me-Maha Suci-kan Allah dalam..
  9. ..menyaksikan bencana & mengakui kezhaliman diri (QS 68: 29), menolak fitnah keji yang menimpa saudara (QS 24: 16). Bagaimana Hadits-nya?
  10. “Kami apabila berjalan naik membaca takbir, & apabila berjalan turun membaca tasbih.” (HR Al Bukhari, dari Jabir). Jadi “SubhanaLlah”..
  11. ..dilekatkan dalam makna “turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab secara umum; yakni menggunakannya..
  12. ..tuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas Allah SWT dilekatkan padanya. Adalah Gurunda @kupinang..
  13. ..yang pernah memiliki pengalaman memuji seorang Gurunda lain nan asli Arab dengan “SubhanaLlah”, kemudian mendapat jawaban tak dinyana.
  14. “AstaghfiruLlahal ‘Adhim; ‘afwn Ustadz; kalau ada yang bathil dalam diri & ucapan ana; tolong segera Ant luruskan!”, kira-kira demikian.
  15. Bagaiamana simpulannya? Dzikir tasbih secara umum adalah utama, sebab ia dzikir semua makhluq & tertempat di waktu utama pagi & petang.
  16. Adapun dalam ucapan sehari-hari, mari membiasakan ia sebagai pe-Maha Suci-an Allah atas hal yang memang tak pantas bagi keagunganNya.
  17. Bagaimana dengan “MasyaaLlah”? QS 18: 39 memberi contoh; ia diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan melimpah; kebun, anak, harta.
  18. Sungguh ini semua terjadi atas kehendak Allah; kebun subur menghijau jelang panen; anak-anak yang ceria menggemaskan, harta yang banyak.
  19. Lengkapnya; “MasyaaLlah la quwwata illa biLlah”, kalimat ke-2 menegaskan lagi; tiada kemampuan mewujudkan selain atas pertolongan Allah.
  20. Pun demikian dalam kebiasaan lisan berbahasa Arab; mereka mengucapkan “MasyaaLlah” pada keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan.
  21. Demikianlah pengalaman menghadiri acara Masyaikh; & membersamai beberapa yang sempat ke Jogokariyan; dari Saudi, Kuwait, Syam, & Yaman.
  22. Di antara mereka ada yang berkata, “MasyaaLlah” nyaris tanpa henti, kala di Air Terjun Tawangmangu, Bonbin Gembiraloka, & Gunung Merapi.
  23. Simpulannya; “MasyaaLlah” adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah; dan memang hal indah itu dicinta & dikehendaki oleh Allah.
  24. Demi ketepatan makna keagunganNya & menghindari kesalahfahaman; mari biasakan mengucap “SubhanaLlah” & “MasyaaLlah” seperti seharusnya.
  25. Membiasakan bertutur sesuai makna pada bahasa asli insyaaLlah lebih tepat & bermakna. Tercontoh; orang Indonesia bisa senyum gembira..
  26. ..padahal sedang dimaki. Misalnya dengan kalimat; “Allahu yahdik!”. Arti harfiahnya; “Semoga Allah memberi hidayah padamu!” Bagus bukan?
  27. Tetapi untuk diketahui; makna kiasan dari “Allahu yahdik!” adalah “Dasar gebleg!” ;D Jadi, mari belajar tanpa henti & tak usah memaki;)
  28. Demikian Shalih(in+at), bincang tentang “SubhanaLlah” & “MasyaaLlah”; moga manfaat. Harap menyimak dari no (1) agar tak keliru. Salam:)

Wallahu a’lam bishowab.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge