“Rezeki pengantin baru, nih..”

Begitu kata beberapa orang teman ketika saya mendapat hadiah uang Rp 10.000 dari dosen tamu mata kuliah Kepemimpinan dan Negosiasi. Pak Dosen memberikan permainan tebak-tebakan angka. Beliau menulis angka secara sembunyi-sembunyi, kemudian mahasiswa yang mau menebak disuruh mengacungkan tangan terlebih dahulu. Jika tebakan pertama langsung benar, mahasiswa mendapat hadiah 100 USD. Kalau baru tebakan kedua yang benar, mahasiswa memperoleh hadiah sekian SGD (lupa nominalnya). Dan seterusnya sampai nominal hadiah adalah Rp 10.000.

Sebelum saya, sudah ada teman yang mencoba menebak, tapi salah terus. Pak Dosen lalu mengganti angkanya. Ketika dosen tersebut melempar kembali kesempatan menebak ke mahasiswa, saya iseng-iseng mengacungkan jari. Dan, taraaa.. saya pun berhasil menjawab di tebakan kesekian. Biar cuma jeban, tapi hati girang bukan kepalang. Kejadiannya sudah hampir sebulan berlalu, tapi sampai sekarang masih terkenang-kenang. :}

Terkenang, karena peristiwa itu menjadi momen munculnya pengiyaan saya terhadap pesan orang tua dan kakak-kakak. Pesan yang disampaikan sebelum saya menikah. Kata mereka, menikah adalah salah satu cara membuka pintu rezeki. Nanti ada saja rezeki yang datang tanpa kita kira-kira sebelumnya.

Kebetulan, sehari sebelumnya, saya sedang punya utang ke Nora. Besar utangnya Rp 9.000, hampir sama dengan nilai hadiah itu. Utang untuk bayar nasi goreng di Plasma. Belum dibayar-bayar karena memang belum pegang uang. Mau ambil ke ATM tapi belum jadi-jadi (alesan, bilang aja lagi bokek).

Sesaat setelah mendapat hadiah, uang langsung saya kasihkan ke Nora. Alhamdulillah, utang pun lunas. :p

Seminggu kemudian, masih di mata kuliah Kepemimpinan dan Negosiasi, kembali saya mendapat hadiah. Kali ini payung.

 

 

Kembali saya teringat pesan orang tua dan kakak-kakak soal rezeki. Benar-benar tidak terkira sebelumnya, ya.

22 Oktober lalu, (iya, di hari pernikahan yang indah itu :p) payung saya dipinjam kakak. Sudah menjadi kebiasaan, payung ada di tas ketika bepergian, termasuk saat pulang kampung. Nah, si kakak ini lupa mengembalikan. Jadilah payung saya entah di mana. Mungkin masih di Kebumen, mungkin terbawa kakak ke rumahnya di Cililitan, atau mungkin juga terbawa orang lain. Meski masih punya satu payung lain, tapi saya ada niat untuk membeli lagi buat dipakai suami. Apalagi Bintaro sudah mulai hujan. Eh, sebelum jadi membeli, ternyata ada hadiah payung dari dosen tamu. Alhamdulillah..

Itulah sekelumit kisah rezeki pengantin baru yang saya alami. Masih ada cerita-cerita lainnya yang membuat saya sangaaat bersyukur. Adaaa saja ya rezeki itu. Tatkala kita butuh A, eh ada teman yang mengkado A. Sewaktu suami ingin B, eh ada kesempatan untuk mendapatkan B. Dan lain-lain. Iya sih, mungkin saya terlalu menghubung-hubungkannya dengan pernikahan yang baru seumur kecambah ini. Mau pengantin baru, mau pengantin lama, mau belum menikah, mau sudah menikah, kalau sudah rezekinya ya jadi rezekinya saja. Tapi, karena masih pengantin baru, ya sah-sah saja kan kalau saya sebut itu rezeki pengantin baru? :D

Buat yang bukan pengantin baru, harus tetap tenang. Karena untukku rezekiku, untukmu rezekimu. Rezeki tak akan pernah tertukar, tidak seperti putri-putri di sinetron. :}

Rezeki Pengantin Baru
Tagged on:         

2 thoughts on “Rezeki Pengantin Baru

  • November 24, 2011 at 7:30 am
    Permalink

    aku lg butuh kulkas 2 pintu yg no frost nih…kira2 ada yg mau ngasih ga ya?! *kikirkuku

    Reply
    • November 24, 2011 at 12:25 pm
      Permalink

      Ada dong.. Misua.
      Huehehe..
      Kemampuan merayunya silakan dipraktikkan sebaik-baiknya. :p

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge