Category Archives: film

Now You See Me

Now You See Me

Now you don’t.

Sudah pernah kukatakan kalau aku penyuka film dengan twist ending. Film yang satu ini memiliki twist ending, cuma… twist ending-nya kurang greget. :)

Eh, tapi sajian keseluruhan film ini sangat menghibur kok. Tanpa adanya twist ending pun, aku sudah dibuat suka dengan tempo film yang berjalan cepat dan rangkaian dialog yang padat. Seperempat bagian pertama film menurutku adalah bagian terbaik dari film ini. Mulai kesana-sana, setelah satu per satu teka-teki sulap dibuka, aku jadi mulai berpikir kok bisa begini dan kok bisa begitu. Seperti ada lubang yang tak terjawab. Tapi karena tempo filmnya cepat, mikirku ya tidak bisa lama-lama, hehehe. Alhasil, kunikmati jalan cerita film ini tanpa berusaha banyak berpikir. Cukup menebak-nebak saja. :D

Eh iya, dilarang “meleng” saat menonton film ini. Ini film tipe-tipe yang tidak bisa dibawa “meleng” soalnya. :)

Ada empat pesulap, yaitu Daniel Atlas (Jesse Eisenberg) sang ahli sulap jarak dekat, Merritt McKinney (Woody Harrelson) sang ahli hipnotis, Henley Reeves (Isla Fisher) sang ahli membebaskan diri, dan Jack Wilder (Dave Franco) sang ahli membuka kunci (bingung juga keahliannya apa, tapi di awal-awal dia dikenalkan sebagai pesulap sekaligus pencopet..).

Mereka pesulap jalanan yang dipertemukan di sebuah apartemen oleh sosok misterius yang mengirimi masing-masing dari mereka sebuah kartu. Setahun kemudian, mereka sudah menjadi sekelompok pesulap bernama The Four Horsemen. Di sini mereka mulai melakukan pertunjukan sulap yang pada intinya adalah “mencuri uang”, dan kemudian memberikan semua uang curian tersebut sebagai hadiah di akhir pertunjukan kepada para penontonnya.

Agen FBI Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) dan agen Alma Vardas (Melanie Laurent) berusaha menguak teka-teki trik sulap yang dilakukan oleh The Four Horsemen ini. Lalu, ada juga seseorang bernama Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) yang mantan pesulap dan kini berkarir sebagai pembongkar trik sulap untuk mencari keuntungan yang mengikuti kemanapun The Four Horsemen beraksi. Niatnya jelas, untuk membongkar trik sulap mereka.

Seru kan kelihatannya? :)

Bagaimana akhir kisah The Four Horsemen? Akankah mereka tertangkap FBI dan Interpol? Bisakah Thaddeus Bradley membongkar trik sulap mereka? Siapakah sosok misterius yang mengirimi kartu kepada mereka di awal cerita? Adakah pihak lain yang membantu The Four Horsemen beraksi? Nah, ayo ayo ditebak.

Tapi ingat kata film ini: the closer you look, the less you’ll see

Empat bintang untuk Now You See Me.

Duet

Duet

Tersebutlah sebuah drama seri di Kompas TV yang membuatku menangis sesenggukan siang ini: Duet. Kisahnya sederhana, ada seorang ibu yang membesarkan anak perempuannya seorang diri. Si ibu bernama Linda, diperankan oleh Adinia Wirasti. Si anak perempuan bernama Kidung, diperankan oleh Luna Shabrina, masih duduk di bangku SD. Kadang nenek Kidung alias ibu dari Linda datang mengunjungi mereka jauh-jauh dari Bandung. Si nenek dimainkan oleh Jajang C. Noer.

Kisah itu terasa familiar. Yang pertama, tentu karena aku punya seorang ibu yang sekaligus berperan sebagai bapak, membesarkan anak-anaknya seorang diri. Dulu ibu dari Ibu alias Mbah Klirong juga kadang datang ke rumah, seringkali untuk menemaniku kalau Ibu harus pergi keluar kota selama beberapa hari.

Kidung ini anak yang baik dan mandiri. Tapi namanya juga anak kecil… Sesusah payahnya Linda berusaha memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, kadang Kidung merasakan ada sesuatu yang kurang. Akhirnya dia ngambek, ingin sesuatu yang lebih.

Aku pernah berada di posisi seperti itu. Ngambek karena ingin sesuatu tetapi Ibu tak bisa memenuhinya. Padahal menurutku yang aku inginkan bukanlah hal yang terlalu sulit untuk dipenuhi. Iya iya, itu hanya menurutku…

Kalau teringat perjuangan ibu kita masing-masing saat membesarkan kita memang kadang bikin terharu. Maklum lah ya. Apalagi sekarang setelah kondisi kesehatan Ibu yang menurun, rasanya ingin menoyor-noyor diri sendiri kalau ingat betapa dulu sering bikin susah Ibu.

BTW, drama seri yang bagus kalau kubilang. Cerita tidak lebay tapi banyak pesan moral, akting pemain juga alami. Suka. :)

Segitiga Lepas Kaki dll

Segitiga Lepas Kaki dll

Look into his angel eyes
One look and you’re hypnotized
He’ll take your heart and you must pay the price

Look into his angel eyes
You’ll think you’re in paradise
And one day you’ll find out he wears a disguise

Don’t look too deep into those angel eyes

Kamis (7/2) lalu, paket kiriman dari Bale Buku Bekas berisi dua novel Gus tf Sakai sampai di tanganku. Sebenarnya paket ini sampai di kontrakan hari Rabu sore (6/2), tapi ketika itu aku sedang pergi. Aku di rumah Karawaci sampai ba’da mahrib (anggaplah Karawaci meski aslinya Curug :D). Tetanggaku yang menerima paket baru menyerahkannya kepadaku esok harinya.

Segitiga Lepas Kaki. Aku sangat menyukai novel ini. Ya, sering kunyatakan itu. Sudah lama ingin kujadikan ia sebagai koleksi pribadiku, semenjak kelas dua SMP. Dan kini sudah terwujud. Ditambah bonus satu novel Gus tf Sakai lainnya pula. Yeay!

Bani Suntang, tokoh utama yang ada di dalam novel Segitiga Lepas Kaki, dilukiskan memiliki mata serupa angel eyes. Imajinasi Gus tf Sakai tentang angel eyes yang tertuang di dalam novel membuatku penasaran. Akan tetapi, sebenarnya daya tarik utama novel ini untukku adalah karena ia sebuah novel elegi. Hatiku tertusuk-tusuk setiap kali membacanya (lebayyy). Kebanyakan novel yang kubaca ketika itu kalau bukan novel remaja komedi ya novel remaja romantis. Biasanya happy ending.

Jika selesai membaca novel ini aku bertanya-tanya, “Mengapa? Mengapa harus begitu?” Lalu, beberapa lama kemudian aku akan kembali ke perpustakaan, membacanya kembali. Seusai menuntaskan halaman-halamannya, aku akan kembali bertanya-tanya, “Mengapa? Mengapa?”

Barangkali novel ini terlalu berat untukku yang baru kelas dua SMP. Ah, barangkali akunya saja yang terlalu sensitif. Iya iya, memang aku yang terlalu sensitif. Seberat-berat novel remaja itu masih ringan. Setelah lulus SMP, ya sudah, aku berhenti membacanya. Tapi aku masih tetap belum bisa menerima akhir cerita novel Segitiga Lepas Kaki. Apa perlu aku buat fan fiction-nya sendiri saja ya? :D

Ohya, aku jadi kenal lagu-lagu ABBA gara-gara novel ini. Bait-bait awal postingan ini adalah potongan lagu Angel Eyes dari ABBA.

Kebetulan, dorama Jepang yang paling kusuka juga berbau-bau ABBA. Strawberry on the Shortcake yang dibintangi oleh Hideaki Takizawa dan Kyoko Fukada, opening song-nya adalah Chiquitita dan ending song-nya SOS, dua-duanya dinyanyikan ABBA. Instrumental kedua lagu ABBA tersebut hasil aransemen Senju Akira yang menghiasi dorama ini juga bagus. Terlepas dari hal-hal yang berbau ABBA dari dorama tersebut, aku memang menyukai jalan cerita dan para pemainnya.

Kebetulan lagi, film Australia yang kusuka juga sangat berbau ABBA. Judulnya Muriel’s Wedding. Mengisahkan seorang gadis yang menggemari lagu-lagu ABBA dan terobsesi dengan pernikahan. Muriel namanya, orangnya aneh, agak gemuk, sering di-bully oleh teman-temannya. Teman-temanya suka mengejek kalau dia tidak akan pernah bisa menikah. Tapi akhirnya dia bisa menikah kok, meski karena suatu alasan yang menyedihkan. Dan lagu yang mengiringinya saat berjalan ke altar adalah lagu ABBA. Konyol kan? :D

Pemeran Muriel ini bernama Toni Collette. Dia bermain dengan baguuus, cocok sebagai Muriel yang aneh, agak bodoh, konyol, bulliable. Dan kebetulannya lagi, si Collette ini bermain di film The Sixth Sense yang juga kusuka. Namun, di film tersebut tak ada aroma ABBA sama sekali. :)

:D :D :D

 

Hey, sedang meracau apa aku ini? Kerjakan skr*ps*, woy!

Supir, eh Sopir ding…

Supir, eh Sopir ding…

Semalam, akhirnya aku menonton film Drive.

Setelah menunggu sekian lama. Satu setengah tahunan lah. Horeee. ^__^

Puaaasss. Dengar-dengar, sang sutradara berhasil memenangkan penghargaan sebagai yang terbaik di Cannes 2011. Tadinya kupikir film ini akan penuh dengan aksi kebut-kebutan mobil semacam Fast and Furious. Apalagi judulnya saja sudah berbau-bau “kemudi”. Eh, aku salah. Ya ada sih kebut-kebutannya, tapi sedikit. :D

Film ini bercerita tentang seorang pengemudi mobil, yang bahkan sampai akhir cerita aku tidak tahu siapa namanya. Diperankan oleh Ryan Gosling dengan sangat baik. Dari menit awal sampai akhir, aku tertawan. Dia dingin, tapi baik hati, tapi ganteng (eh), tapi punya kemampuan istimewa di depan kemudi, tapi malu-malu, tapi sadis, tapi bikin penasaran. Dia misteriusss. Tiba-tiba jadi ngefans dengan dia. Dengan si pengemudinya, bukan dengan Ryan Gosling-nya. :D

Di menit-menit awal film diputar, si pengemudi mobil digambarkan sedang menjalankan misi menjemput semacam penjahat. Yah, aku rada-rada bingung dengan adegan awalnya. Kemudian, menit-menit selanjutnya, digambarkan bahwa si pengemudi mobil ini punya pekerjaan sebagai stunman untuk adegan film yang berhubungan dengan mobil. Mobilnya dibikin tabrakan lah, terbalik lah, semacam itu. Tapi kemudian kudapati si mas-mas pengemudi ini juga bekerja di bengkel mobil. Lalu konfliknya di mana? Tonton saja langsung ya, atau cari info di tempat lain. Aku kurang pandai mengisahkan jalan cerita film. :p

Film ini beralur lambat. Tapi tidak membosankan sama sekali. Sepanjang film, aku merasa tegang. Apalagi di menit-menit akhir, aku sampai menahan napas. Aku juga sulit menebak mau dibawa kemana lanjutan cerita setiap adegan.

Asal mulanya aku penasaran dengan film ini adalah karena aku SUKA (kalau sudah pakai kapital itu sudah tingkat akut) dengan soundtrack-nya yang berjudul A Real Hero, dinyanyikan oleh College featuring Electric Youth. Lagu ini mengingatkanku dengan musik tahun 80-an. Musik beraliran new wave. Take My Breath Away, salah satu lagu favoritku sepanjang masa, adalah lagu yang mengenalkanku pada jenis musik ini. Jenis musik yang bisa membuatku melayang…

Aku suka jalan cerita filmnya, suka soundtrack-nya (terutama yang A Real Hero dong), suka dengan musik latar yang disajikan sepanjang film, suka pengambilan gambarnya, suka aroma 80-annya. Bagai menghirup aroma Top Gun di masa kini.

Postingan pertama dari rumah Karawaci. Eh, dari rumah Curug ding. Rumah ini masuk kawasan Curug, tapi nama perumahannya ditempel-tempeli kata Karawaci. BTW, selama ini aku juga sejatinya tinggal di Pondok Aren, tapi selalu bilang tinggal di Bintaro. Yah, seperti halnya dulu aku selalu mengatakan tinggal di Cililitan, padahal aslinya tinggal di Kampung Makasar. Postingan buru-buru karena sudah mau pulang ke Bintaro, eh Pondok Aren ding. Belum pindahan, baru bersih-bersih rumah saja seharian. :D

Hadir!

Hadir!

Long time no see. :)

Sibuk sih tidak, tapi aku sedang keasyikan menjalani kehidupan di dunia nyata. Aku sengaja mengurangi waktu ngeblog karena ingin berkonsentrasi dengan kegiatan di dunia nyata.

Dokumentasikan dulu ah. Lumayan buat isi-isi postingan.

Keluarga

Ibu datang ke Jakarta. Ada saudara menikah. Keluarga Mas Iin main ke rumah. Keluarga Rina adik Mas Ipin juga main ke rumah dan menginap. Damar juga main ke rumah dan menginap. Yah, kira-kira itu yang terjadi selama dua minggu ini.

Kampus

Aku sedang terjatah presentasi di hampir semua mata kuliah. Yang paling banyak menguras pikiran, waktu, dan tenaga adalah persiapan presentasi mata kuliah Metode Penelitian alias Metolit. Di malam sebelum hari H presentasi, aku bahkan tidur tak sampai satu jam. Mana bisa tidur lama, yang mau dipresentasikan belum selesai. :(

Mulai minggu ini, proses penyusunan skripsi juga sudah resmi dimulai. Ini ditandai dengan penyelenggaraan acara pembekalan skripsi oleh pihak Sekretariat, yang bersamaan dengan jadwal dimulainya pencarian Dosen Pembimbing. Alhamdulillah hari ini aku sudah mendapat nama Dosen Pembimbing. Tema skripsi kemungkinan besar keluar dari yang aku niatkan. Ya sudahlah. Insya Allah kalau mau berjuang keras, tema apapun dapat dikerjakan dan diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Ohya, di kampus juga sedang ada turnamen bulutangkis DIV Khusus angkatanku. Tiap kelas mewakilkan satu regu, terdiri atas pemain tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran. Aku ikut bermain di ganda campuran. Untukku pribadi, sudah tiga kali bertanding dan tiga kali menang. Horeee. Tapi kalau dilihat dari sisi regu kelas, reguku tiga kali bertanding dan baru satu kali menang. Nanti malam adalah pertandingan keempat kami. Semoga menang! Kalaupun tidak, yang penting having fun. :D

Lain-Lain

Apa ya? Emm, akhirnya ada juga satu film yang kembali menguras emosiku. Terakhir film yang berkesan adalah The Avengers. Aku tertawa terus sampai perut sakit. Film Batman, Perahu Kertas part 1, dan Ted agak kurang memuaskan. Aku merasa hambar, selesai menonton tidak banyak mengingat-ingat kembali. Kemudian kemarin saat menonton Perahu Kertas part 2, aku bisa menangis tersedu-sedu. Setelah selesai menonton, aku terus berpikir mengenai apa yang disampaikan film itu.

Bulan ini juga bulan pembayaran pajak motor dan mobil. Aku dan Mas Ipin cukup pening mengurusi yang satu ini. Duit lagi, duit lagi.. :|

Sudah, ini saja dulu. Sekedar catatan dokumentasi hidup, hehehe. Sekedar mengisi presensi, hehehe.

Semangat menjalani hariii!

 

-(postingan kurang niat)-