Category Archives: plesir

Time Flies So Fast

Time Flies So Fast

Ada 3 pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah, dan merahasiakan sedekah. (HR Tabrani)

Aku lebih suka bermain di twitterland daripada facebook. Sekarang, bagiku facebook itu identik dengan status berbau MLM, foto barang jualan, foto bayi atau anak kecil, foto masakan/makanan, atau foto jalan-jalan di Singapura/Malaysia. Tapi di facebook ada banyak teman SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, yang tidak bisa kutemukan di twitter.

Twitter lebih tentang tulisan. Kata-kata. 140 karakter. Keterbatasan. Keterbatasan yang acapkali melahirkan kehebatan karena harus kreatif. Aku menemukan banyak orang hebat di sana, baik karena kreatif maupun karena memang hebat dari sisi lainnya. Twitter menjadi tempat yang lebih nyaman buatku dibanding facebook.

Namun, sebesar apapun keinginanku untuk meninggalkan facebook, dia masih terus memberi manfaat. Aku terkadang masih bercengkerama dengan teman-teman jauhku. Juga sudah beberapa kali membeli barang dengan perantara facebook. Dia masih memiliki sesuatu yang tidak bisa diberikan dari twitter.

Ya sudah lah Ren, mereka berdua itu memang saling melengkapi. Menyerahlah untuk terus menerus mengeluhkan salah satu atau keduanya. :D

Sebaris kalimat di awal postingan ini kudapat dari twitter. Terima kasih twitter karena engkau menjadi perantaraku menemukannya. Aku suka kalimat itu. Begitu menohok.

Ya, menohok sekali kan? Jelas sekali kan? Aku sering menebar keluhan. Juga sering menceritakan musibah, kalau aku baru kena musibah. Lalu sedekah? Aku sepertinya jarang mengumbar cerita tentang itu, tapi itu karena aku memang jarang melakukannya, jadi ya apa yang mau diceritakan.

Hih, menyedihkan. :|

Oke, kali ini membahas judul.

Kamis (7/2) sampai Minggu (10/2) aku mudik ke kampung halaman. Mas Ipin ada acara di SMA kami. Dan aku sendiri sudah ngebet ingin menjenguk orang tua. Aku juga rindu rumah oranyeku. Rumah ngejreng-ku. Rumah yang warnanya tadinya tidak kusuka sama sekali tapi kemudian menjadi begitu kusuka sekali. Rumahku.

Bisa-bisanya aku jadi suka warna oranye gara-gara kamu, Rum.

Aku lebih banyak di rumah daripada berjalan-jalan, Aku hanya sempat menyambangi Pemandian Air Panas Krakal. Berendam air panas di dalam bathtub. Bikin rileks. Bikin ketagihan. Tiket masuk area pemandian Rp3.000 dan tiket masuk kamar mandi Rp7.500, sekadar info untuk yang mungkin tertarik ke sana. Ini untuk pertama kalinya aku ke sana. Punya suami orang Alian kok baru main ke Krakal sekarang sih Ren, Ren…

Lalu, sekembalinya ke Bintaro, aku menemukan kalimat judul itu mengisi ruang hatiku (ceile).

Time flies so fast when you’re having fun

 

Apa itu termasuk kalimat keluhan? Aku terbiasa mengeluh dengan kalimat yang nyata-nyata keluhan semacam: pusing nih, bingung, susah, dan sebagainya (hiiiih). Dan kalimat itu membuatku berpikir apakah aku juga sedang mengeluh. Mengeluhkah? Tidakkah?

Ih, pusing deh jadinya. (nah, mulai mengeluh lagi)

:p

Situ Gintung

Situ Gintung

Pergi ke suatu tempat untuk pertama kalinya, ditemani orang tersayang, adalah kunci rekreasi yang menyenangkan bagiku. Tak harus jauh-jauh. Apalagi mahal, tak harus sama sekali.

Sudah lama aku penasaran seperti apa yang namanya Situ Gintung (telat banget yak belum pernah ke sana?). Terletak di Ciputat Timur, tak jauh dari Bintaro. Jadilah aku dan Mas Ipin main-main ke sana. Kami hanya tahu Situ Gintung dekat UIN. Mblusuk-mblusuknya belum tahu, lihat di google map juga kurang jelas. Tapi untuk apa pepatah “malu bertanya sesat di jalan” dibuat kalau bukan untuk dipraktikkan. :D

Setelah bertanya kepada mba-mba penjaga toko di dekat UIN, masuklah kami ke sebuah jalan. Ada plang petunjuk masuk ke tempat wisata Situ Gintung yang besar. Lurus, lurus, lurus, dan sepertinya nyasar. Bertanya lagi pada seorang kakek di pinggir jalan, dia menjawab bahwa kami sudah melewati belokan menuju Situ Gintung. Seharusnya saat ada belokan ke kiri yang menurun di dekat fakultas kedokteran UIN, kami belok.

Mas Ipin putar balik, dan mengikuti arahan sang kakek. Setelah belok, lurus sebentar, kami belok kiri lagi dan melewati gerbang parkir. Kami parkir di depan tempat wisata Pulau Situ Gintung. Kalau mau masuk ke sana harus membeli tiket masuk.

Tapi bukan ini yang ingin kami lihat. Kami ingin melihat situ. Danau kecil. Air yang banyak. Bendungan. Bukan berbagai jenis permainan dan hiburan yang ada di Pulau Situ Gintung.

Kembali kami bertanya. Dimanakah letak bendungan itu berada? Ternyata jauh. Di sisi situ yang berlawanan dengan tempat kami berdiri saat itu. Kami mesti ke jalan raya lagi, lewat depan UIN lagi, masuk melalui jalur yang berbeda. Setelah kulihat-lihat, sepertinya jalur masuk itu berada di seberang jalan tempat angkot Jagung-Gintung bermuara. Benar tidak ya?

Kami sampai di Situ Gintung yang ingin kami lihat. Lalu kami berkeliling di lingkungan sekitar sana untuk melihat rumah-rumah yang kemungkinan dulu terkena musibah jebolnya bendungan situ tersebut. Kami juga naik ke daerah perumahan di Cirendeu yang jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Sesudah merasa puas, aku dan Mas Ipin kembali ke situ dan menikmati pemandangan sambil menghabiskan gorengan yang kami beli dari penjual di dekat situ. Gerimis sempat menyapa para pengunjung. Menambah nikmat rasa gorengan. :D

Aku suka melihat air yang banyak.

Semoga bendungannya tidak jebol lagi. Itu diduduki seperti itu tidak apa-apa kan bendungannya? :|

mBandung

mBandung

Senin pertama setelah long weekend di pertengahan November, aku melepas Mas Ipin berangkat bekerja dengan berat. Rasanya ada yang aneh. Ternyata selama long weekend itu aku dan dia hampir tidak pernah terpisahkan. Itu dia penyebabnya. :D

Dari empat hari libur, kami hanya bepergian di hari Kamis, sisanya bermalas-malasan di rumah. Mau ke tempat Rina tidak jadi, mau ke Cililitan juga tidak jadi. Judulnya adalah malas kemana-mana. Faktor cuaca juga sih, Bintaro sedang sering diguyur hujan. Padahal kalau hujan, teras samping rumah pasti kena tampyasan air hujan, dan karena lantai teras samping sama tinggi dengan lantai rumah, air tampyasan itu bisa masuk ke rumah. T_T

Di hari Kamis itu pun sebenarnya aku malas bepergian. Tapi karena Mas Ipin dari beberapa hari sebelumnya merayu-rayu terus untuk ditemani pergi ke Bandung, jadilah aku iyakan ajakannya.

Rencananya kami berangkat sepagi mungkin sehabis sholat subuh dengan harapan jalan tol masih sepi. Prediksi kami, pagi itu orang-orang banyak yang sedang mudik. Namun, kami malah berangkat setengah enam lewat, padahal bangun sudah dari jam empat. Aku keasyikan bermain google map, mencari tahu alur jalan menuju tempat yang kami tuju di Bandung nantinya. Masuk tol JORR kendaraan masih sepi, pindah ke tol Cikampek jalanan ramai, di Cipularang semakin padat bahkan sampai terhenti di beberapa titik, kemudian keluar di Pasteur kami langsung disambut dengan kemacetan cukup lama. Total lama perjalanan hampir empat jam. Lamaaa. Alhamdulillah pas pulangnya kami hanya butuh dua jam saja untuk sampai di Bintaro lagi.

 

 

Tujuan kami adalah ITB. Sehari sebelumnya Mas Ipin sudah menghubungi salah satu teman SMA kami yang sekarang sedang mengambil S2 di sana. Seorang komikus. Namanya Sweta Kartika. Tadinya kami mau menunggu dia di kampus, tapi karena sempat salah masuk di gerbang khusus pegawai dan dihadang Pak Satpam, kami malah jadi bingung gerbang mana yang bisa kami masuki. Akhirnya mobil kami parkirkan di depan sebuah tempat makan yang juga aku lihat nama tempatnya di google map, hehehe. Namanya Warung Pasta.

Setengah jam kemudian, Sweta datang. Ini adalah untuk pertama kalinya aku mengobrol langsung dengan dia. Sebelumnya hanya tahu nama saja. Orangnya cerdas, ceria, penuh semangat, dan memiliki wawasan yang luas. Inspiratif. Ohya, sebelumnya aku juga mengenal dia sebagai satu-satunya teman Mas Ipin yang setuju dengan program yang digembar-gemborkan Mas Ipin ketika masih kuliah dulu, yaitu menikah di atas 25 tahun. Dan dari obrolan kami, aku tahu kalau Sweta ini ternyata lebih parah dari Mas Ipin, karena dia mematok umur yang lebih tua lagi. Tapi dia tidak menggembar-gemborkannya sih, jadinya ya tidak punya banyak musuh seperti Mas Ipin, hahaha.

Kami juga membicarakan beberapa karyanya. Selain komik Wanara yang bisa dinikmati secara online di sini, dia juga punya cerita komik yang diterbitkan berkala di akun facebook-nya. Judulnya Grey & Jingga (The Twilight). Cerita itu juga ada OST-nya. Yang menciptakan dan menyanyikan juga si Sweta sendiri. :D

Kisah Grey dan Jingga ada di sini, dan OST-nya ada di sini. Cekidoot.. ;)

Kampus ITB itu ternyata kecil, ya. Namanya juga institut, Ren, beda sama universitas.. Aku membayangkan, kampus itu pasti sangat ramai di hari kuliah. Tapi aku suka sekali dengan desain kampus itu. Semakin masuk, semakin naik. Kampusnya berundak-undak. Dan di bagian belakang kampus tampak Gunung Tangkuban Perahu. Baguuus.

 

 

Setiap kali mengunjungi kampus terkenal di Indonesia, aku pasti terkagum-kagum. Terkadang aku memang lebay. Mungkin istilah “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau” cukup tepat untukku dalam hal ini. Hal itu terjadi mungkin karena kampusku memang desainnya kurang memukau. Dulu. Dulu kurang memukau. Sekarang sih sudah jauuuh lebih baik. :p

Acara mBandung ini hanya diisi dengan acara bertemu dengan Sweta, sholat, keliling kampus ITB, dan makan-makan. Bahkan makanan tenda pinggir jalan yang aku dapati di sana pun enak. Tujuan lain Mas Ipin melakukan perjalanan ini adalah mengecek Bintaro-ITB PP itu seberapa lama, seberapa banyak habis bensin, dan seberapa banyak uang tol. Ternyata tolnya mahal yaaa. Sekali jalan Rp2500 + Rp7500 + Rp45.000 = Rp55.000. T__T

Lain kali ingin ke Bandung dengan kondisi keuangan yang lebih fit, biar bisa belanja-belanja sepuasnya, hihihi. Terutama belanja makanan khas Bandung yang enyak-enyak. *ngiler*

Dufan, Dufan, Dufan..

Dufan, Dufan, Dufan..

Akhirnya kesampaian juga main ke Dufan.

Aku cuma menaiki tiga wahana. Itu sudah cukup membuatku gemetar dan pusing. Maklum, newbie. Mas Ipin menaiki empat wahana. Sebenarnya dia ingin mencoba lebih banyak lagi. Namun, setelah wahana keempat dia menyerah. Alhasil, kami pun memutuskan untuk berhenti naik ini itu. Kami berjalan-jalan saja di dalam Dufan. Menikmati ekspresi orang-orang yang sedang naik wahana ini itu. Itu juga sangat menyenangkan. :D

1. Kincir Raksasa

Ini wahana untuk kami pemanasan. Kincir berputar dengan pelan. Banyak anak-anak kecil yang naik. Tidak ada yang menjerit-jerit seperti para penumpang wahana Kora-Kora yang terletak persis di sebelah Kincir Raksasa. Enaknya naik kincir ini adalah pemandangan Ancol dapat kami lihat seluruhnya saat posisi sedang ada di atas.

 

2. Kora-Kora

Kora-Kora alis Perahu Ayun. Asli, aku sekapok-kapoknya naik wahana ini. Deg-degan pol! Benar-benar memacu adrenalin. Saat perahu diayun ke atas, aku masih bisa mengendalikan diri meski deg-degan. Saat perahu diayun ke arah yang berlawanan, rasanya HUWAAA. Kaki dan tangan gemetar, jantung seperti mau copot. Aku belum pernah segemetar ini dalam jangka waktu yang cukup lama, sampai beberapa menit.

Aku lebih sering memejamkan mata sambil berteriak sekuatnya untuk melepas ketakutan yang aku rasakan. Kadang sambil berucap, “Ini kapan selesainyaaa?”

Yang paling aku takutkan saat naik Kora-Kora adalah Mas Ipin diam saja di sampingku. Aku tidak berani menengoknya sama sekali. Untuk membuka mata saja takut, apalagi menengok. Kupanggil-panggil tak pernah dijawabnya. Saat kuraba tangannya: dingin dan tak bergerak. Aku takut dia ketakutan yang teramat sangat sampai tak mampu bicara. Alhamdulillah, setelah turun dari Kora-Kora, dia tampak baik-baik saja.

 

3. Ontang-Anting

Kami naik kursi kecil yang digantung pada tali yang berpusat pada satu rantai. Nah, seperti apa pula itu? Wahana itu membuat kami berputar-putar dengan cukup cepat di ketinggian. Tidak terlalu deg-degan, hanya setelah turun kami jadi pusyiiing.

4. Halilintar

Karena pusing, aku memutuskan untuk beristirahat naik apapun. Mas Ipin ngotot mau naik yang lain. Dia lalu mencoba Halilintar. Dan ternyata ini menjadi wahana terakhir yang ia naiki. Hahahaha. Turun dari Halilintar, tangannya benar-benar dingin, badannya lemah lunglai berjalan, dan wajahnya pucat. :D

 

Begitulah pengalaman kami pergi ke Dufan sebagai newbie. Meski tidak banyak wahana yang dinaiki, kami sudah sangat senang. BTW, main ke Dufan ini dalam rangka acara gathering orang kantor. Sayangnya kami datang terlambat, hampir jam setengah tiga. Kami tidak bertemu dengan rombongan kantor. Itu pula yang menyebabkan kami tidak berlama-lama di Dufan. Kami baru bertemu dengan orang-orang kantor pada malam harinya saat makan bersama.

Reni numpang lewat

 

Tidak ada fotoku yang sedang naik ketiga wahana di atas. Tapi aku tidak hoax kok. :)

Catatan Perjalanan: Balik Lebaran 1433 H

Catatan Perjalanan: Balik Lebaran 1433 H

Mungkin karena balik adalah perjalanan kedua. Dan tujuannya adalah kota perantauan, bukan tanah kelahiran. Sehingga semangat berpetualangnya juga tak seperti saat mudik. :p

Tapi, dalam setiap perjalanan selalu ada hikmah. Ada pengalaman baru. Ada pelajaran hidup. Yang mendekatkan kita kepada Tuhan.

Kebumen-Bintaro

Sabtu (25/08), sekitar pukul 03.30 WIB. Kami berangkat dari rumah Adimulyo. Seperti saat mudik, barang-barang dititipkan ke Mas Ugo yang akan ke Palembang via Jakarta esok harinya. Kami memilih jalur pantura. Rute yang ditempuh adalah: Adimulyo-Sumpiuh-Wangon-Ajibarang-Bumiayu-Ketanggungan-Cirebon-Indramayu-Subang-Cikampek-Kalimalang-Bintaro.

Belajar dari cerita kedinginan saat mudik, maka selain memakai sarung tangan dan jaket, kami berdua juga memakai kaos berlapis. Cukup berhasil melawan dinginnya pagi yang brrr.

Setengah lima kurang kami berhenti di Sumpiuh untuk isi bensin, mampir ke toilet, dan sholat subuh. Antrian toiletnya sungguh menyiksa. Yah, saat itu memang saatnya panggilan alam bagi kebanyakan orang. :|

Read the rest of this entry