Kembali

Kembali

Embed from Getty Images

Halooo…

Sesungguhnya aku tidak tahu kata pembuka apa yang paling tepat untuk mengawali tulisan ini. Hampir empat tahun berlalu sejak tulisan terakhirku di blog ini. Dan aku yakin 99,99%, sedikit teman yang dulu kadang berkunjung ke sini untuk membaca ataupun sempat meninggalkan komentar di tulisan-tulisanku, sekarang sudah tidak pernah lagi bahkan untuk sekadar membuka laman utama. Jadi, mau bilang halo pun, halo ke siapa ya? Halo ke widget di samping mungkin, atau ke gambar background. :D

Kepada siapapun itu, atau kepada apapun, aku benar-benar ingin mengatakan SENENG BANGET BISA BALIK KE SINI.

Kembali ke blog ini hampir seperti mimpi. Pertama, aku tidak menyangka jika suamiku yang lucu nan baik hati itu tiap tahun masih memperpanjang domain ini. Dia tahu benar cara komunikasi perempuan yang memang suka berbelit-belit.

Jika perempuan bilang “terserah”, itu artinya dia ingin kamu laki-laki ikuti apa maunya. Dan bisa jadi, saat itu si perempuan masih belum tahu apa maunya yang sebenarnya. Nah lho, makin bingung ga tuh.

Jika perempuan bilang “aku sudah tidak akan menulis di blog ini lagi, tidak usah perpanjang lagi domainnya”, itu artinya dia masih ragu akan kembali menulis di sana atau tidak, dan sebaiknya kamu laki-laki berjaga-jaga jika tetiba dia ingin kembali dengan cara tetap memperpanjang domain blognya.

Ya kira-kira begitulah perempuan, khususnya aku pribadi. :D

Kedua, balik ke sini itu seperti balik ke sebuah dunia lain yang sudah beda banget dengan duniaku sekarang. Sebuah dunia di mana masih ada Ibu dan belum ada Baran. Dunia macam apa pula itu ya? Benar-benar seperti mimpi. Kembali ke sini juga berarti mau tidak mau kembali membaca tulisan penuh nostalgia. Ada yang indah untuk dikenang, ada yang bikin mbrambang.

Apapun itu, aku sekarang sudah kembali ke sini. Semoga ini menjadi awal baru yang baik.

Welcome back!

Lewat HPL

Lewat HPL

Tiap hari bareng, tapi makin hari makin kangen. :’)

Kangennya itu sudah yang kangeeen buangeeet. Sudah lama deh aku tidak merasakan kangen seperti ini. Malah kayaknya belum pernah merasakan yang seperti ini. Padahal… tiap hari kan bareng ya.

HPL junior memang sudah lewat empat hari, tapi namanya juga perkiraan ya, bisa maju bisa mundur. Aku dan Mas Ipin masih menunggu sinyal dari junior. Tiap hari junior kami ajak berkomunikasi, tapi tampaknya di dalam masih lebih menarik buat junior. Sabar… sabar…

Kami percaya junior tahu saat terbaik kapan dia akan melihat dunia. Semoga kondisinya di dalam selalu oke-oke saja hingga waktu kelahirannya nanti. Terakhir periksa, denyut jantungnya bagus, air ketuban masih cukup, dan yang lain-lainnya juga normal. Besok jumat kami berencana untuk periksa lagi. Semoga semua baik-baik saja dan junior bisa segera lahir. Aamiin…

Berbagai macam induksi alami sudah aku coba. Mas Ipin sudah rajin ‘menengok’ junior seperti yang dianjurkan banyak orang. Makan durian, nanas, mangga, pepaya mengkal sudah. Mandi air hangat juga sudah. Dll dll. Tapi junior masih anteng… Eh ya tidak anteng sih, di dalam aktif bergerak terus, kepalanya juga sudah nyondol-nyondol ke bawah. Menggoda Bunda kamu ya, nak…

Sana-sini bilang aku stress memikirkan Ibu, makanya junior masih betah di dalam. Ibu memang sudah hampir dua minggu dirawat di RS Polri. Tapi dibilang stress ya tidak lah. Malah bisa jadi stress beneran kalau sana-sini bilang aku stress lhoo. Seperti pesan Ibu, kami punya perjuangan sendiri-sendiri, harus terus semangat dan tetap saling mendoakan. Iya Bu, siaaap.

Alhamdulillah, Mas Ipin mulai minggu ini juga sudah ambil cuti, jadi aku ada teman yang siap siaga 24 jam di sisiku. Tadinya Mas Ipin pikir dia ambil cuti ini si junior sudah lahir, eh ternyata belum. Cuti satu minggunya ditambah libur akhir tahun, jadi ada waktu cukup panjang untuk Mas Ipin menemaniku dan junior. Ada untungnya juga tempat kerja Mas Ipin dekat rumah. Jadi nanti kalau dia sudah masuk kerja, kalau ada apa-apa bisa pulang dengan cepat. Tiap istirahat siang juga bisa menengok aku dan junior. Tapi semoga nanti setelah junior lahir ada yang bisa menemani kami bertiga, biar lebih tenang. Ayo ayo siapa yang mau mendaftar. Kasihanilah kami… hehehe.

Kata orang, paling ribet merawat bayi itu minggu-minggu awal melahirkan karena masih ada tali pusar. Nanti kami sudah siap-siap minta tolong bu bidan dekat rumah atau dukun bayi daerah sini kalau ada kesulitan memandikan junior saat masih ada tali pusarnya itu.

Sebelumnya tidak terbayang sama sekali benar-benar bakal cuma berdua saja menanti kelahiran anak kami, mana rumah kami jauh dari saudara. Hadapi saja dengan sebaik-baiknya, nanti juga akan berjalan baik dengan sendirinya. Iya to? Entah ya, kok aku sekarang bisa setenang ini. Ya tenang-tenang deg-degan juga, tapi masih terhitung tenang. Terima kasih ya Allah untuk rasa tenang yang Kau berikan ini. Pengaruh afirmasi positif yang sering aku dengarkan juga sepertinya. Biarpun dulu kaku memegang bayi, hehehe *ketawa getir*, insya Allah besok junior akan terawat dengan baik. Aamiin!

Makanya, ayo junior, ndang ketemu Ayah Bunda. Ayo ayo… Insya Allah kami akan berusaha merawatmu dengan sebaik-baiknya. :)

Semangat Mencatat

Semangat Mencatat

Semangat mencatat transaksi pemasukan dan pengeluaran. :D

Gara-gara baca status fb kakak kelas beberapa hari lalu mengenai aplikasi android untuk pengelolaan keuangan, aku dan Mas Ipin langsung mencari aplikasi sejenis untuk dipasang di hp kami. Sejak pindahan dari kontrakan ke rumah sendiri, kami teledor urusan catat-mencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan rumah tangga.

Adaptasi rumah baru, lalu masuk kerja, hamil, dan akhir-akhir ini adaptasi mau punya bayi, ya begitulah.. tiap bulan selalu ada pengeluaran baru yang nilainya cukup signifikan. Dan dengan segala kesibukan baru (ya tidak sibuk juga sih) akibat adaptasi itu, aku sudah malas dan merasa ribet terlebih dulu kalau mesti buka laptop untuk mencatat transaksi harian yang dilakukan. Ya sudah, tahu-tahu kantong kering deh…

Sekarang kegiatan mencatat sudah jauuuh lebih praktis dibanding dulu. Tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Kami mencoba beberapa macam aplikasi dan yang paling sreg di hatiku sekarang adalah Money Lover. Per 1 Desember kemarin, aplikasi ini resmi digunakan di hpku untuk mencatat berbagai pemasukan dan pengeluaran rumah tangga.

Sejauh ini, aku merasa nyaman menggunakan aplikasi ini. Alasan utamanya adalah karena fiturnya mirip dengan aplikasi excelku dulu. Aku bisa merekam budget tiap periode pencatatan. Di Money Lover, pemasukan dan pengeluaran terdiri atas beberapa kategori yang namanya bisa kuedit, atau kutambahkan nama kategori baru menyesuaikan nama kategori yang biasa kupakai sebelumnya. Ketika mencatat transaksi harian, aku juga bisa menambahkan keterangan tambahan mengenai transaksi itu. Fleksibel. Hanya ada sedikit kategori yang tidak bisa diedit namanya: debt, loan, other.

Selain membuat budget per periode pelaporan, aku juga bisa membuat perencanaan tabungan. Selain itu, aplikasi ini memberikan informasi berapa jumlah utang dan piutang yang kita miliki, termasuk dengan siapa kita berutang atau berpiutang. Nah, buat yang sering lupa punya utang, cocok nih…

Aku masih berusaha mengenal lebih jauh aplikasi ini. Masih ada fitur-fitur yang belum kupakai. Biarpun sederhana, tapi insya Allah aplikasi ini akan sangat membantuku ke depannya. Semangat mencatat! :)

Walk The Talks

Walk The Talks

Hai. *datar*

Hari Minggu lalu aku merasa bahagia sekali. Sekaligus sedih. Hari itu kujumpai Ibu. Ibuku yang kurindukan, akhirnya kita bisa berjumpa lagi.

Setelah di Sardjito dokter mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mengobati sakit Ibu adalah dengan laparotomy, Ibu pulang untuk menimbang-nimbang. Dari cerita Lik Ripno, saudaraku di Cililitan yang pernah mengalami sakit yang sama, di RSPAD Gatot Subroto ada jenis operasi lainnya yang tidak perlu pakai acara sayat menyayat.

Saudara yang lain juga menyarankan Ibu untuk menjalani pengobatan alternatif di Jakarta yang sudah terbukti berhasil menyembuhkan sakit beberapa anggota keluarga besar kami.

Namanya juga sedang berikhtiar. Maka Ibu berusaha menempuh jalan-jalan pengobatan tersebut.

Ibu ke Jakarta dijemput oleh Mas Iin. Sekarang Ibu tinggal di rumah Mba Yeti. Saat kujumpai Ibu hari Minggu kemarin, badannya lebih kurus lagi dibanding sebelumnya. Terakhir aku menjenguk Ibu adalah ketika mudik lebaran. Saat itu Ibu sudah turun 20 kg dibanding berat sebelum sakit.

Ibuku yang dulu gemuk segar, kini terlihat kurus pucat. Ya Allah, sebenarnya hati ini begitu nelangsa. Tapi aku tidak boleh menangis di depan Ibu.

Mata Ibu yang berwarna kuning tetap bersinar penuh semangat. Perjalanan panjang Kebumen-Jakarta masih menyisakan kelelahan, tapi tidak mengurangi semangat yang menyala di dalam dirinya. Ibu… Engkau masih seperti yang dulu. Begitu kuat menghadapi lika-liku kehidupan.

Ibu, telah kau buktikan bahwa dirimu “walk the talks”.. Akan kuingat selalu pesanmu, bahwa aku harus tegar.

Insecure

Insecure

Hohoho…

Di rumah kami sedang ada bapak-bapak tukang. Dak duk dak duk… berisik suara alat-alat tukang mereka. Dalam rangka menyambut junior datang ke dunia, rumah mungil kami diberesi sedikit. Semoga nanti junior dan siapapun yang akan menemani kami di rumah ini dapat merasa nyaman. Aamiin…

Sambil menunggui bapak-bapak tukang bekerja, aku uthek-uthek ponselku. Kemarin Mas Ipin sudah memasang aplikasi wordpress di sini. Daripada mengganggu orang yang sedang bekerja dengan mengajak mereka chatting, pilihan bikin postingan jauh lebih baik. Terima kasih, Mas Ipin untuk aplikasi wordpress-nya. Ini mainan yang mengasyikkan. I love you.

BTW… aku masih terkagum-kagum dengan kakak kelasku yang kemarin menghiasi pemberitaan di media. Dia diangkat menjadi direktur BUMN di usianya yang baru menginjak 28 tahun! Keren kan? Selisih satu tahun di atasku, tapi pencapaiannya sudah sangat luar biasa.

Hasil mengintip linikalanya, ternyata si Mba lulusan S2 di negeri Belanda ini masih merasa insecure dengan pencapaiannya di usianya yang masih 20-an. Twit insecure-nya tentang insecurity itu masih belum ada seminggu yang lalu. Dia belum diangkat menjadi direktur BUMN sih saat itu, hehehe. Tapi… Halooo, Mba. Kamu pasti sudah mencapai banyak hal sampai akhirnya kamu dipercaya untuk menduduki posisimu sekarang.

Dan… kalau yang sepertimu saja masih merasa insecure, terus yang seperti aku ini mesti merasa bagaimana dong?

Sebenarnya apa sih itu insecure? Rasa tidak aman yang ditimbulkan oleh diri kita sendiri, to? Semacam pikiran negatif. Belum tentu penyebab yang membuat kita merasa tidak aman itu benar-benar nyata? Iya, to?

Jadi, kalau kita berpikiran positif, maka rasa tidak aman itu tidak akan muncul? Iya, to? Hehehe. Tahu, deh.

Yak, masalah insecurity ini memang banyak dialami orang. Mungkin ya, salah satu penyebabnya adalah karena kita suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Mungkin ya…

Dulu pernah juga aku menanyakan hal yang sama dengan si Mba Direktur tadi. Apa sih pencapaianku di usiaku yang sudah 20-an? Kalau aku sih pantas-pantas saja berpikir seperti itu, lha memang tidak banyak pencapaian kok, hehehe. Saat itu, lanjut kuliah belum, menikah belum, boro-boro punya anak. Sedangkan teman-teman yang lain, kalau tidak sudah lanjut kuliah ya sudah menikah atau punya anak. Jadi, ada hal besar yang mereka lakukan. Terus, di sisi kehidupanku yang lain, aku juga cuma berjalan seperti air yang mengalir.

Tapi, karena berpikir bahwa orang punya jalan hidup sendiri-sendiri, perasaan itu lama-lama hilang. Terlupakan. Yang ada aku menjalani hidup dengan bahagia. Kayaknya sih begitu.

Hahaha, postingan tidak jelas.

Sudah dulu saja lah pembahasan mengenai ini. Meracau tidak jelas sekali kau, Ren. Mending lihat hasil kerja bapak-bapak tukang, yuuuk.