Mungkin karena sedang PMS, sudah beberapa hari ini saya begitu gampang mewek. Mendengarkan lagu cinta, mewek. Baca tulisan mengharukan di beberapa blog, mewek. Bahkan, menunggu suami pulang kerja pun mewek. Sungguh ter-la-lu.

Dan yang jarang sekali terjadi pun terjadi: mewek karena kangen Bapak.

Entah ini namanya kangen atau apa. Tiba-tiba ingin menangis sejadi-jadinya ketika terpikir Bapak. Bukan terkenang, karena saya tidak punya kenangan apa-apa. Hanya terpikir. Ada gambar-gambar di dalam ingatan yang memperlihatkan Bapak sedang bermain-main dengan saya. Tapi saya ragu itu benar-benar merupakan kenangan. Mungkin itu hanya khayalan tentang kenangan yang menurut saya seharusnya ada dalam kepala ini. Entahlah.

Biar suami tidak menaruh banyak curiga, saya menangis sambil menonton video lagu Aerosmith yang I Don’t Want To Miss A Thing. Video yang saya ambil dari youtube itu berisi cuplikan film Armageddon. Tahu kan cerita filmnya? Tak jauh-jauh dari hubungan ayah dan anak perempuannya. Pas banget. :’)
More »

Biasanya saya ke kampus bawa air mineral dari rumah. Jadi, kalau haus ya tidak perlu beli. Tempat minumnya dari Tupperware yang katanya adalah salah satu produk plastik yang aman dipakai. Tapi, karena suami bawa tempat minum itu ke kampusnya buat dipakai sehari-hari di sana, maka saya pun jadi jarang membawa air lagi. Beli air mineral hampir tiap hari ternyata dipikir-pikir boros juga. Ya boros uang, ya boros bungkus plastiknya. Mau beli Tupperware lagi kok member Tupperwarenya jauh. Akhirnya, pas tadi lagi main ke Harmony, saya memutuskan untuk beli tempat minum dari produk plastik yang kira-kira aman. Spontan saja sih.

Namanya Clip Fresh. Tempat minumnya ada klipnya. Biarlah sedikit aneh, daripada tidak jadi-jadi beli tempat minum. Ada keterangan BPA free. Lihat pantat botolnya juga ada nomor 5 di dalam segitiga. Terus, harganya di antara jejeran tempat minum di swalayan itu juga yang paling mahal, meskipun ya tidak termasuk mahal juga untuk ukuran tempat minum. Berdasarkan hal-hal tersebut, saya anggap tempat minum itu aman dan saya bisa membelinya.

Jadilah saya beli.

Kemudian, karena penasaran apa itu BPA free, pulang dari swalayan saya googling.

Kata wikipedia tentang apa itu BPA:
More »

Ingatkah kamu ketika sore-sore kita terguyur hujan deras dari Cililitan sampai Bintaro? Di jalan Simatupang, banjir menghadang di mana-mana. Kita berdua, beserta Grandma, berusaha melewatinya dengan sekuat tenaga.

Grandma hampir tumbang, tapi kamu tak mau menyerah.

Aku cuma duduk di belakang. Berpegangan erat pada pinggangmu.

Ingin menangis.

Bukan karena Grandma hampir tumbang. Tapi karena kamu tak mau menyerah. Padahal aku sudah memintamu menyerah. Ternyata kamu lebih teguh dari yang aku bayangkan. Kamu ingin kita segera sampai di rumah.

 

Kemudian Grandma tumbang.

 

 

 

Dan kita pun bertemu dengan bengkel.

:’)

(#opoiki? #ikiopo?)

Di luar, tanah sedang ditetesi gerimis. Dingin-dingin begini enaknya santai-santai di atas tempat tidur, sambil baca novel atau menonton film. Atau mengerjakan PR dari Nur. :D

*sambil krungkelan*

Telah ratusan minggu aku tidak mendapat PR macam begini. Blog ini kan cuma sedikit yang tahu. Bisa dihitung dengan jari. Bahkan yang memberi komentar biasanya Nur sahaja. Huehehe. Terima kasih Nur sudah menjadi pembaca setia. Sebagai wujud terima kasihku, kukerjakan PR darimu. Jawaban tidak dijamin memuaskan ya.

Aturan:

  1. Tuliskan 11 fakta tentang kamu.
  2. Jawab pertanyaan yang kamu dapat dari pengirim PR.
  3. Pilih 11 blog teman yang belum mendapat PR ini.
  4. Buatlah 11 pertanyaan baru bagi mereka.

Fakta tentang aku:

    More »

Bukaaan. Bukaaaaaaaaan!
Bukan mau pindah blog lagi, kok. -__-

(Ini kok ya heboh sendiri?)

Kali ini mau pindah rumah beneran, lebih tepatnya lagi pindah rumah kontrakan, hehehe. Semoga pindah rumah ke rumah sendirinya juga bisa segera terwujud.

Sebenarnya, berat sekali untuk pindah dari rumah ini. Sebuah rumah petak yang kecil mungil. Hanya ruang tamu, satu kamar tidur, dan dapur plus kamar mandi. Tapi, ini adalah rumah petak terbaik yang pernah aku temui di dunia ini. Lebay ya? :D

Lha kalau rumah petak terbaik yang pernah ditemui, kenapa diriku memilih pindah rumah? Begitulah, kekurangan yang tak seberapa, menutupi kelebihan-kelebihan lain yang ia miliki. Padahal aku betah sekali di sini. Bangunan yang dibuat tidak asal, halaman depan yang lumayan luas, kamar tidur yang berpintu, ada pintu belakang, halaman belakang untuk tempat menjemur pakaian dan mencuci ini itu, juga berpagar sehingga lebih aman, dekat dengan jalan Ceger, dekat dengan agen bis Sumber Alam, dan kelebihan-kelebihan lain yang sulit aku temukan di rumah petak lainnya.

Rumah ini listriknya masih bareng dengan rumah petak sebelah. Aku dan suami ingin sebuah rumah yang listriknya sendiri. Daya listrik di sini memang cukup untuk dua keluarga, tapi sepertinya akan lebih nyaman bila satu keluarga punya tanggung jawab yang jelas atas pemakaian listriknya masing-masing. Jadi, kriteria pertama kami dalam mencari kontrakan baru adalah listrik sendiri. Dengan kata lain, tidak mencari rumah petak lagi. Karena mayoritas rumah petak itu listriknya barengan dengan sebelahnya.

Kriteria selanjutnya, rumah dengan akses langsung kendaraan roda empat. Dengan kata lain, kendaraan tersebut bisa langsung parkir ke depan rumah. Syukur-syukur ada garasi. Punya garasi tidak harus punya mobil kan? Kalau ada saudara jauh berkunjung, kendaraan mereka kan bisa diparkir di depan rumah. Kakakku yang di Palembang juga sudah berkata akan menginap di tempatku kalau dia sedang berkunjung ke Jakarta. Dia sudah berpesan agar kami mencari rumah yang ada parkiran mobilnya. Okelah. Dan siapa tahu juga kami ada rezeki sehingga bisa membeli kendaraan dalam waktu dekat, hehehe. Aamiin.

Kemudian, suami ingin agar rumah dekat dengan kampus dan bisa ditempuh dengan sepeda tanpa membuatku lelah. Padahal, aku juga tidak masalah kalau jarak rumah-kampus agak jauh. Toh hitung-hitung olahraga. Namun, sebagai istri diriku manut kata suami saja. :D

Untuk jumlah kamar, sebenarnya kamar satu pun tak apa, asal ada ruangan lain yang cukup luas dan bisa untuk digelar kasur. Tapi jangankan mencari rumah berkamar satu, mencari rumah berkamar dua saja susahnya minta ampun.

Setelah kami kesana kemari, pilihan jatuh pada sebuah rumah di daerah Sarmili. Pernah kami menaksir rumah di Ponsaf, tapi ternyata sudah keduluan orang. Di PJMI pun banyak rumah kosong, tapi harganya hampir dua kali harga sewa rumah di Sarmili itu. Bahkan ada yang lebih dengan jumlah kamar sama-sama tiga. Ya iyalah, PJMI gitu loh.

Awalnya aku tidak sreg dengan rumah di Sarmili ini. Dia memang memenuhi kriteria kami. Listrik sendiri, akses mobil sampai depan rumah, bahkan kamar ada tiga. Hanya saja, dia dekat dengan daerah buangan sampah. Tapi pusing juga terus-terusan mencari. Suami sudah tidak mau pusing berlama-lama. Sekali ketemu rumah lain yang bagus, harganya yang tidak cocok. Rumah bagus harganya juga bagus. Lalu, kemarin sore aku melihat kembali rumah itu. Mencoba mendapatkan feel-nya. Jika memang dia jodohku, beri hamba petunjuk ya Allah.

Kita semua tahu hidup itu memang tentang pilihan. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Dan aku pun menjatuhkan pilihan. Harus memilih. Besok-besok harus siap menerima konsekuensinya. Harus siap.

Insya Allah akhir pekan ini kami akan pindah ke rumah di Sarmili itu. Mungkin bisa mundur kalau ada yang mau diperbaiki dulu di rumah itu. Antara sedih dan senang. Masih ingin di rumah petak ini, tapi juga sudah ingin segera pindah. Nano-nano rasanya.

Harapanku, semoga kontrakan baru ini membawa banyak kebaikan bagi kami. Aamiin ya Allah.

 

Update 7 Januari 2011:

Waktu pindah mundur sekitar 1-3 minggu, menunggu rumah diperbaiki dulu. :)